Seimbangkan Kewajiban Antara Pengabdian di Dunia Pendidikan, Keluarga dan Bisnis Klinik Hewan

Nama Prof. Dr. drh. Ni Ketut Suwiti, M. Kes tidaklah asing di dunia kedokteran hewan di Bali. Perempuan usia 57 tahun ini masih aktif dalam berbagai bidang, termasuk menjadi Direktur Rumah Sakit Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (RSH FKH Unud). Di luar itu, ia juga disibukkan dengan kegiatan sebagai pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Bali. Selain itu, perempuan yang meraih gelar Guru Besar di usia relatif muda yakni 47 tahun ini juga memiliki usaha klinik hewan di samping masih bisa menyempatkan waktu untuk keluarga tercinta.

Sesungguhnya setiap wanita itu hebat, apalagi memiliki bekal kemampuan dan ilmu pengetahuan. Akan menjadi lebih istimewa lagi apabila seorang wanita mampu menjadi sumber inspirasi bagi kaumnya. Salah satu wanita yang menginspirasi khususnya dalam hal menyeimbangkan antara karir dan kodrat sebagai perempuan adalah Prof. Dr. drh. Ni Ketut Suwiti, M. Kes. Baginya, para wanita memiliki keistimewaan yaitu mampu menjalankan berbagai peran dalam kehidupan. Seperti dirinya yang mampu menjalankan peran sebagai ibu, istri, dosen, maupun pengusaha.

Menurut perempuan yang akrab disapa Prof. Suwiti tersebut, para wanita memang tidak semestinya terjebak dalam anggapan bahwa ia tidak bisa mengaktualisasikan diri. Apalagi di masa kini sangat memungkinkan untuk wanita mengembangkan softskill maupun hardskill yang dimiliki. Tinggal sekarang bagaimana strategi yang harus dijalankan agar dapat membagi waktu sehingga semua tanggung jawab dapat diselesaikan. Seperti dirinya yang sangat disiplin dalam hal manajemen waktu. Karena menurutnya jika tidak mampu mendisiplinkan diri maka waktu yang sangat terbatas itu tidak akan terkelola dengan baik.

Sikap dan karakter disiplin yang dimiliki Prof. Suwiti tidak lain merupakan hasil penempaan dari didikan orangtuanya sejak kecil. Terutama dari Sang Ayah yang merupakan sosok pengusaha yang sukses berkat kerja keras dan kedisiplinannya. Ayahnya pun ingin agar ia dan tujuh saudaranya yang lain dapat menduplikasi etos kerja dari Sang Ayah agar nantinya bisa menjadi pribadi yang tak kalah sukses dari kedua orangtua mereka.

Sebagai salah satu anak perempuan, Prof. Suwiti diberikan kebebasan dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya. Hal itu bisa dibilang suatu kemewahan bagi perempuan seusianya, di mana pada masa itu yaitu tahun 70-an, anak perempuan dianggap tidak perlu mengecap pendidikan yang layak. Dogma bahwa anak perempuan tidak perlu disekolahkan karena nantinya akan menjadi pelayan bagi suami dan keluarga, tidak berlaku dalam kehidupan Prof. Suwiti. Bagi kedua orangtuanya, perempuan maupun laki-laki memiliki hak dan tanggung jawab yang setara.

Perlakuan yang adil itulah membuat Prof. Suwiti merasa bersyukur mendapat kepercayaan dari orangtuanya untuk bisa di kelas. Namun sepertinya, jiwa pengusaha dari Sang Ayah juga menurun padanya, sehingga di sela-sela kesibukan belajar di sekolah, ia masih sempat menjalankan bisnis berjualan es lilin untuk menambah uang sakunya.

Pengorbanan

Ketika tiba pada masa melanjutkan ke perguruan tinggi, Prof. Suwiti harus meninggalkan Kota Singaraja yang merupakan tempat ia terlahir dan bertumbuh untuk merantau ke Bali Selatan. Ia memilih untuk berkuliah di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Walaupun tinggal jauh dari orangtuanya, Prof. Suwiti tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan dengan tekun mengikuti perkuliahan. Ia mengaku sangat jarang berekreasi seperti anak muda lain sebayanya dan lebih memilih mengisi waktu dengan belajar.

Ketekunannya itu pun akhirnya berbuah manis yaitu ia mampu lulus meraih gelar dokter hewan atau drh. Selepas lulus kuliah, ia sempat pulang ke kampung halaman untuk mengembangkan bisnis peternakan ayam. Namun tidak lama kemudian ia kembali ke Badung untuk melamar sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Hewan. Sejak itu, sepak terjang Prof. Suwiti dalam hal mengabdi di dunia pendidikan dimulai.

Setelah menikah pun, tidak membatasi Prof. Suwiti untuk meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya. Hal itu juga harus mengorbankan ego sebagai seorang ibu yaitu pada saat ia harus melanjutkan pendidikan magister di Universitas Airlangga. Peraih gelar Doktor di kampus yang sama itu mengaku sebenarnya sangat berat ketika harus meninggalkan anak yang masih kecil. Namun hal itu menurutnya tidak membuatnya abai terhadap tanggung jawab sebagai ibu. Justru menurutnya semasih sang anak berusia dini ia harus bekerja keras menyelesaikan pendidikan agar kelak di saat Sang Anak telah remaja, ia memiliki kelonggaran waktu untuk mengawasi tumbuh kembang anak tercinta.

Terbukti saat ini, kedua putranya bertumbuh dengan baik dan salah satunya telah berhasil menjadi dosen di Kampus Udayana. Meskipun Prof. Suwiti memiliki segudang aktivitas dalam kesehariannya ia mampu menjalankan perannya sebagai seorang ibu bagi I Gede Oga Pramarsutha dan I Made Sutha Saskara serta istri bagi Dr. drh. I Nengah Kerta Besung MSi yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Hewan. Bahkan di luar kesibukannya sebagai dosen dan direktur rumah sakit hewan, Prof. Suwiti tetap mengembangkan jiwa kewirausahaannya yaitu dengan mendirikan klinik hewan di Jimbaran.

Kembangkan Klinik Hewan

Prof. Suwiti mengatakan memberi nama Taman Griya Petcare untuk pusat kesehatan dan penjualan kebutuhan hewan peliharaan agar sesuai dengan lokasi usahnya tersebut. Tepatnya berlokasi di Perumahan Kori Nuansa, Lingkungan Taman Griya, Jl. Nuansa Udayana I No.mor 11A, Jimbaran. Taman Griya Petcare dikelola oleh para dokter hewan berpengalaman yang telah mengantongi ijin praktek. Tidak hanya melayani pengobatan pada hewan yang sakit, Petcare ini juga melayani vaksinasi, grooming, dan boarding atau penitipan anjing dan kucing. Tentunya dengan pelayanan terbaik dan harga yang terjangkau.

Melihat tren perkembangan usaha yang kian menunjukkan hasil menggembirakan, pada tahun kelima usahanya, Prof. Suwiti dan rekan-rekan dokter hewan di Taman Griya Petcare memutuskan untuk membuka cabang satu lagi. Kali ini mereka memilih lokasinya di Ungasan, Badung. Justru klinik kedua yang diberi nama Ungasan Vetcare ini perkembangannya lebih pesat lantaran lokasinya yang strategis yaitu di kawasan hunian para ekspatriat maupun wisatawan mancanegara yang tengah berlibur di Bali.

Sebagai salah satu contoh wanita Bali yang berhasil mengaktualisasikan kemampuan diri di samping mampu menjalankan peran di rumah tangga, Prof. Suwiti berpesan kepada sesama wanita lainnya untuk saling mendukung dan mengedukasi. Tidak perlu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, sebab setiap wanita berjuang dengan caranya masing-masing. Selain itu ia berpesan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia, semua hal yang dikerjakan dengan tekun dan konsisten tentunya akan berbuah keberhasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!