Sajian Cokelat Premium dari Pulau Dewata

Bagi penggemar cokelat tidak ada yang lebih menyenangkan dari menikmati panganan favorit di tempat produksinya langsung. Inilah yang dirasakan para pecinta cokelat yang tengah menyambangi Pulau Bali. Selain mengeksplorasi keindahan alam dan budaya Pulau Dewata, mereka dapat berplesiran ke pabrik pembuatan cokelat berkualitas tingg. Bahkan bukan hal yang mustahil untuk ikut langsung dalam proses pembuatannya.

Menelusuri jejak perjalanan biji kakao hingga menjelma menjadi sebatang cokelat dapat dilakukan sekaligus di Primo Chocolate Factory. Usaha pengolahan cokelat ini berlokasi Jalan Bumbak Dauh No.130, Kerobokan, Kuta Utara, Badung ini mencoba menawarkan pengalaman unik kepada para konsumen mereka. Para pengunjung yang menyinggahi tempat pengolahan cokelat ini tidak hanya sekedar membeli cokelat. Mereka pun juga dapat mengikuti kelas mengolah cokelat.

Gusde Verdacchi, Manager Operasional di Primo Chocolate, menjelaskan bahwa kelas pembuatan cokelat itu sengaja dibentuk agar pengunjung dapat menjalin konektivitas dengan produk tersebut. Selama ini masyarakat umumnya membeli cokelat kemasan di toko konvensional tanpa tahu asal muasal cokelat tersebut. Dengan ikut serta dalam proses pembuatan cokelat yang akan mereka konsumsi, maka Ikatan emosional terbentuk melalui pengalaman unik yang dirasakan oleh konsumen terhadap produk.

“Kami membuka chocolate making class sehingga konsumen dapat ikut membuat cokelat dari bean to bar (biji ke cokelat batangan,red). Mulai dari menyortir biji kakao hingga tempering cokelat yang akhirnya bisa dibawa pulang, semuanya adalah pengalaman mendalam yang bertujuan untuk mengajarkan cara-cara yang tepat untuk membuat cokelat lokal berkualitas tinggi,” ujar Gusde.

Cokelat Premium

Produk panganan cokelat yang dijajakan di Primo Chocolate Factory merupakan jenis dark chocolate. Gusde memaparkan bahwa jenis cokelat ini berbeda dengan cokelat yang kerap ditemukan di toko konvensional. Rasa cokelat di Primo Chocolate cenderung getir karena minim penambahan gula, susu, maupun bahan tambahan lainnya.

Menurut Gusde, tantangan yang awalnya dihadapi adalah upaya penetrasi di pasar lokal. Hal ini lantaran masyarakat Indonesia lebih akrab dengan cokelat bercita rasa manis dan dairy. Sehingga untuk saat ini, produk-produk Primo lebih banyak dipasarkan ke konsumen mancanegara. “Target market kami saat ini untuk di lokal lebih banyak ke hotel-hotel. Sedangkan ke luar negeri market kita ada di Jepang, Spanyol, serta di pasar ASEAN seperti Malaysia dan Singapura,” imbuh Gusde

Primo juga konsisten untuk tidak berpindah haluan menjadi industri besar yang terjun ke pasar cokelat umum. Produksi mereka memang tidak banyak, bahkan tergolong minim. Namun, Primo memastikan setiap cokelat yang keluar dari pabrik terjamin kualitas, tresibilitas dan petani yang memproduksi hidupnya sejahtera.

Demi menghasilkan produk premium berkualitas tinggi, Gusde pun selalu selektif terhadap bahan baku yang dipergunakan. Ia selalu memastikan biji cokelat yang masuk ke tahap produksi merupakan hasil pertanian bermutu tinggi. Karena itu, pria kelahiran 1997 ini terjun langsung pada tahap pernyotiran.

Tidak main-main, dengan alasan yang sama perusahaan ini membeli biji kakao fermentasi hasil produksi petani dengan harga 50 persen lebih tinggi dari pasar internasional pada umumnya. Mereka percaya bahwa petani akan menghargai pembeli dan dengan senang hati memproduksi biji kakao berkualitas.

Dengan demikian rantai suplai pengolahan biji hingga pemasaran berkelanjutan tetap dapat berjalan secara berkesinambungan. Gusde menyadari, tidak mudah mengajak petani untuk melakukan hal tersebut. Terlebih petani sudah sering mengalah terhadap harga biji di pasaran.

 

“Itu yang membedakan kami dengan pelaku di industri besar. Kami menghormati kerja keras petani dengan membeli produk mereka dengan nilai tinggi,” kata Gusde menegaskan.

Primo Chocolate Factory merupakan bisnis yang dirintis oleh ayah Gusde, Giuseppe Verdacchi. Ayahnya adalah seorang arsitek asal Roma, Italia yang telah menetap selama puluhan tahun di Bali. Kini Gusde ikut dalam pengelolaan usaha keluarga tersebut hampir di segala bidang mulai dari operasional usaha, pemasaran, bahkan pada saat pengantaran produk ke konsumen.

Sebagai penerus estafet usaha sekaligus generasi pembaharu, Gusde berharap nantinya brand yang telah dirintis oleh orangtuanya dapat berkembang lebih baik lagi. Salah satu langkah nyata yang akan dilakoni adalah memindahkan lokasi ke tempat yang lebih besar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!