Pertahankan Tradisi Lewat Akomodasi Bergaya Arsitekur Bali – The Ubud Bungalows

Perkembangan pariwisata di daerah Ubud terbukti telah memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakatnya. Tidak sedikit warga lokal yang terjun ke industri pariwisata demi menghasilkan pundi-pundi rupiah. Meski era industrialisme telah merasuk ke sendi-sendi kehidupan orang Ubud, namun masyarakatnya tidak pernah mengabaikan budaya dan tradisi yang telah mengakar secara turun temurun. Demikian pula yang dilakukan sosok sederhana berikut ini yang mencoba mempertahankan budaya arsitektur Bali lewat penginapan yang dibangunnya sejak tahun 1989.

Sosok tersebut ialah I Wayan Parsa. Di usianya yang telah mencapai 70 tahun, ia tetap gesit menjalankan swadharmanya sebagai seorang professional di industri pariwisata. Kesehariannya dipenuhi aktivitas mengelola sebuah penginapan di kawasan wisata Monky Forest, Ubud, Gianyar. Penginapan yang diberi nama “The Ubud Bungalows” ini memiliki daya tarik tersendiri. Sebab arsitektur bangunannya berpijak pada gaya arsitektur Bali yang memiliki ciri khas dipenuhi ornament ukiran-ukiran yang rumit.

Selain ornament pahatan dan ukiran-ukiran yang memiliki nilai estetika tinggi, ciri khas lainnya dari arsitektur Bali yang nampak pada The Ubud Bungalows adalah adanya harmonisasi antara hunian dan lingkungan alam sekitar. Area bungalows ini juga dikelilingi oleh taman dengan rerumputan serta tanaman tropis. Suasana sejuk nan rindang menjadi salah satu bagian daya tarik dari tempat ini.

Di tengah gelombang tren gaya arsitektur modern minimalis, I Wayan Parsa untuk tetap mempertahankan gaya arsitektur tradisional lantaran dirinya meyakini seni tata bangunan di Bali memiliki keunggulan tersendiri. Menurutnya, para wisatawan yang datang ke Bali tentunya ingin menikmati atmosfer suasana Bali yang asli, salah satunya dengan singgah ke penginapan yang sangat kental unsur budaya Balinya.

Selain itu, dengan mempertahankan bangunan berciri khas tradisional Bali, merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap warisan dari para leluhur. Ia meyakini budaya Bali yang adiluhung harus tetap dipertahankan sebab jika budaya ini hilang, maka taksu Bali pun lambat laun sirna. Padahal taksu Pulau Bali adalah elemen pemikat para wisatawan yang berkunjung selama ini.

“Menurut pandangan saya, ke depannya gaya asrsitektur Bali tidak akan kalah bersaing dengan arsitektur lainnya, baik yang sudah berkembang di Bali atau pun yang akan datang,” ujar Wayan Parsa optimis.

Salah satu keunggulan penginapan yang dikembangkan warga lokal seperti dirinya adalah kesempatan bagi para tamu wisatawan menikmati keramahtamahan orang Bali sekaligus melihat dari dekat kehidupan masyarakat lokal.

Memulai dari Nol

Perjuangan seorang Wayan Parsa dalam mengembangkan bisnis penginapan nyatanya tidak semudah yang terlihat dari luar. Ia mengembangkan usaha ini dari modal yang dikumpulkan melalui jerih payahnya sendiri. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai seorang pedagang yang menjual segala kebutuhan sehari-hari. Hal itu dilakoninya sejak tahun 1972.

Pelan namun pasti, keuntungan dari hasil berjualannya dikumpulkan sedikit demi sedikit. Setelah belasan tahun melakoni pekerjaan sebagai pedagang, ia akhirnya mampu membeli sebidang tanah di kawasan Monkey Forest. Pada tahun 1989, Wayan Parsa memberanikan diri mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk membangun sebuah penginapan. Pada waktu itu, ia baru memulai dengan lima buah kamar.

Salah satu hal yang memotivasi Wayan Parsa untuk mencoba berwirausaha, khususnya di bisnis hospitality, yaitu ia memiliki visi ke depan bahwa pariwisata akan sangat berkembang. Apalagi setiap tahunnya jumlah kunjungan wisatawan ke Ubud selalu meningkat. Agaknya keputusan yang diambil Wayan Parsa adalah langkah yang cemerlang. Terbukti akhirnya Bungalows yang dikelolanya itu makin diminati para tamu. Hingga saat ini Wayan Parsa telah mengembangkan Ubud Bungalows yang telah memiliki 26 kamar. Ia juga dibantu oleh anak-anaknya dalam mengelola bisnisnya tersebut.

Wayan Parsa mengakui bahwa apa yang diraihnya saat ini merupakan campur tangan dari Sang Pencipta Alam Semesta. Sehingga dirinya tidak merasa jumawa terhadap kesuksesan yang diraihnya dan secara sadar meyakini bahwa apa yang dimilikinya saat ini adalah titipan dari Beliau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!