Perjalanan Spritual Wanita Pertama di Indonesia yang Mengelilingi Gunung Kailash

Ini mungkin bukan sekedar kisah sukses seseorang yang berhasil membangun bisnisnya. Ini adalah sebuah perjalanan spiritual yang telah mampu membuat Wayan Karmini pemilik dari Warung Tunjung, lebih menghargai sebuah proses kehidupan dan mengenal dirinya yang sejati.

Semenjak Wayan Karmini menikah, ia tidak pernah menetap tinggal di Bali. Terus mengikuti sang suami bekerja, dari kota Balikpapan hingga ke Lombok. Dari perjalanan panjang ini ia mendapatkan sebuah pengalaman berharga yakni proses perjalanan hidup yang mungkin tak semua orang mampu melewatinya.

Wayan Karmini menjalani hidupnya dengan sederhana, ia menjadi pengajar Sekolah Dasar di sebuah daerah pegunungan di Balikpapan, dan ia menikmati pekerjaannya tersebut, walaupun harus menempuh perjalanan selama 1 jam dengan berjalan kaki. Sikap ketulusan dalam mengajar, membuat ia dicintai anak didiknya, ia pun diminta secara resmi oleh pemerintah setempat untuk tidak hanya mengajar di SD, tapi juga siswa TK hingga setingkat SMA.

Tahun 1987, Wayan Karmini mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan ke Lombok, tidak hanya mengajar, ia pun membantu masyarakatnya yang belum memiliki pengetahuan tentang sanitasi dengan memberi informasi kepada masyarakat dan membantu dalam hal pengobatan. Aktif dalam kegiatan tersebut, membuatnya jatuh sakit hingga suhu badannya meningkat 40o celcius. Ia pun dibawa ke rumah sakit terdekat, hingga ada seseorang yang memberitahu bahwa ia harus segera pulang ke Bali, karena ia perupakan pengayah asal Bali. Penjelasan orang tersebut semakin kuat, karena setelah diobati dokter, Wayan Karmini tak kunjung sembuh.

Wayan Karmini pun berobat dengan orang pintar, ia diberi tirta, dan kemudian diputuskan untuk pulang ke Bali. Sampai di Bali, ia mengatakan dirinya baru tersadar, di mana ia sempat bermimpi berada di sebuah lapangan yang luas. Tidak sedikit orang disekitar lokasi itu, tapi tak ada satu pun yang menyapanya dan bersikap ramah.

Dalam mimpi tersebut, ada seseorang yang menunjukkan sebuah rumah, yang merupakan tempat tinggalnya. Di antara rumah lainnya, rumah tersebut jauh terlihat lebih bagus dengan ukirannya. Namun baru akan memasuki rumah tersebut, muncul sosok bertubuh besar melarangnya untuk masuk ke dalam rumah.

Wayan Karmini terbangun dari mimpinya, ia melihat di sekitarnya orang-orang tengah menangis, termasuk dua orang putranya. Ternyata sudah selama seminggu, ia tak sadarkan diri. Wayan Karmini kemudian pindah ke Jakarta, namun lagi-lagi ia diserang penyakit hingga tidak bisa berjalan. Sang suami, Ketut Sumerta (Alm) sempat jengkel dengan keadaan sang istri yang sering sakit-sakitan, ia pun diminta untuk pulang ke Bali dan tinggal di sebuah rumah yang sudah bertahun-tahun tidak ditempati.

Tahun 1997, sebelum masuk ke rumah kosong yang bertempat di Bali tersebut, Wayan Karmini berdoa “Ibu pertiwi, leluhur, bila diijinkan untuk kembali ke Bali, tolong tunjukkan pada saya”. Wayan Karmini kemudian mengambil sedikit tanah, memakannya dan meletakkannya di dahi, sambil menangis. Ia kemudian masuk ke rumah dengan mengajak salah satu putranya. Ia kembali bermimpi bertemu dengan seorang nenek yang menyarankannya untuk berdagang nasi, tapi ia mengatakan ia tidak cocok berdagang karena tidak bisa memasak sama sekali. Ia pun diberi nasehat, bila berjualan nasi, ia lebih banyak mendapat kesempatan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Dari mimpi tersebut ia ceritakan kepada sang kakek, sang kakek pun ingin membantu cucunya, dengan memberi modal untuk perlengkapan memasak.

Di awal membuka Warung Tunjung, Wayan Karmini belum paham bagaimana cara berjualan, alhasil tak sedikit bahan terbuang, karena masih sepi pembeli. Lewat mimpi, ia pun diberi petunjuk, ada seorang anak gadis cantik yang membantunya berjualan, seolah mimpi menjadi kenyataan, setahun kemudian warungnya semakin ramai. Tanpa mengenal putus asa di tengah perjalanan, ada suara-suara yang selalu terngiang dalam pikirannya “Ning nak ngayah dini, selegang megae, ngiring ning mejalanan” Benar saja Tuhan tak pernah mengkhianati umatnya, kini Warung Tunjung telah memiliki 35 orang karyawan dan saat itu Wayan Karmini telah dapat membeli sebuah sepeda motor.

Kisah spiritual Wayan Karmini tak berakhir sampai disana, tangan Tuhan nyatanya masih bekerja. Ia dapat membeli sebuah rumah seharga 900 juta, dari hasil menjual nasi dimana rezeki itu salah satunya datang dari Mantan Gubernur Mangku Pastika yang sengaja membeli nasi untuk bekal perjalanan ke pura-pura. Karena saat bersekolah di Mahatma Ghandi anak dari Mangku Pastika sering berbelanja di Warung Tunjung yang masih sederhana, bahkan saat tak memiliki uang, Wayan Karmini tak segan memberinya secara percuma.

Wayan Karmini kembali bermimpi, kali ini sang suamilah yang datang ke dalam bunga tidurnya. Dalam mimpi tersebut, sambil mendengar suami berpesan agar menjaga anak-anaknya, ia akan berpulang lebih dulu. Wayan Karmini pun menjawab, bahwa harus ia yang pergi lebih dulu. Terbangun dari mimpinya, nyatanya sang suami memang sedang dalam keadaan sakit, tidak dalam rentang waktu yang lama, suaminya pun meninggalkan Wayan Karmini dan dua orang putranya menghadap Sang Pencipta.

Wayan Karmini mendapat petunjuk untuk membuang abu suami ke Sungai Gangga. Sampai di lokasi tersebut, ia mendapat bisikan untuk mandi di Sungai Gangga, sang ayah mencoba mencegahnya, tapi Wayan Karmini tetap bersikeras untuk mandi di sungai tersebut. Di sungai tersebut ia terus berdoa sambil membersihkan diri kepada Dewi Gangga “Saya akan menjadi pelayanmu”, sambil terus mengucapkan gayatri mantram.

Wayan Karmini sempat bermimpi pergi ke Chandam yang merupakan bagian dari empat pegunungan Himalaya. Ia kemudian melakukan pertemuan dengan kedutaan India, untuk memohon perijinan perjalanan ke Chadam. Tidak mudah untuk menempuh perjalanan ini, bersama grup asal Malaysia, Wayan Karmini menaiki kuda yang paling kecil, diantara kuda yang ditunggangi anggota grup lainnya. Melewati tebing yang terjal, sambil mengucapkan gayatri mantram, Wayan Karmini mencoba untuk melawan rasa takutnya.

Sampailah rombongan tersebut pada sebuah danau yang dipercaya sebagai lokasi bersemayam Dewi Parwati. Sambil beristirahat, Wayan Karmini mengucapkan gayatri mantram hingga menangis. Sambil memasukkan kaki dan tubuhnya secara perlahan di danau, teman-teman Wayan Karmini dalam satu grup pun mulai meneriakinya, karena khawatir ia akan mati kedinginan saat itu. Namun berbeda dengan apa yang ia rasakan, ia sama sekali tak merasakan kedinginan, justru air di danau itu terasa hangat di tubuhnya.

Dalam waktu yang bersamaan, Wayan Karmini mendapat tirta dari sebuah botol kecil, ia berjanji akan membagikan tirta itu dan membagikan ke semua orang, agar dapat merasakan aliran air suci sungai gangga. Dari ketinggian 5700 mdpl, dua kali tinggi Gunung Agung, Wayan Karmini merasakan seolah otaknya seperti mengecil, bagaimana tidak suhu pada saat itu mencapai minus 0o celcius. Malamnya, ia bermimpi diminta untuk napak pertiwi atau ngayah ngigel, ia pun mulai paham dengan maksud dari mimpi tersebut. Keesokannya, ia dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kailash.

Tidak makan selama tiga hari, hanya minum air suci dari dalam botol tersebut. Wayan Karmini merasakan dirinya seperti mau mati, otak rasanya semakin mengecil, mulut pun sulit untuk bicara. Empat langkah berjalan, ia dan rombongan beristirahat, kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Setelah empat langkah, kembali beristirahat, begitu seterusnya hingga rombongan tersebut sampai di puncak.

Sesampai di puncak, Wayan Karmini memakan buah apel yang teramat nikmat saat itu dan memberikan energi yang entah darimana membuatnya sulit untuk berhenti berlari. Rombongan yang melihat Wayan Karmini menuruni puncak Kailash dengan berlari, terheran-heran bahkan sempat meneriakinya untuk berhati-hati. Namun kekhawatiran rekan-rekannya tersebut, tak membuatnya berhenti. Hingga akhirnya ia pun mendapat penghargaan sebagai wanita pertama di Indonesia dengan nama diksa Kailai Shiva Laksi Tunjung yang telah berhasil mengelilingi Gunung Kailash. Disamping orangtua, perjalanan spiritual ini mendapat tuntunan dari Ida Nabe Sang Acarya Daksa dan Ida Rsi Acarya Giriramananda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!