Pensiunan Hakim yang Sukses Membangun Restoran Terapung di atas Danau Batur

Faktor alam yang tak menentu, membuat pelaku bisnis di alam terbuka, memiliki tantangan tersendiri dalam membangun bisnisnya. Dibangun sejak tahun 2006 oleh I Wayan Rena Wardana, Restoran Apung berdiri di atas Danau Batur, tepatnya di Jalan Raya Kedisan, Bangli, di mana lokasinya memang jauh dari kota Denpasar, tapi lelah anda akan terbayar dengan menu dan panorama alam yang akan ditawarkan.

Wisata Kuliner di atas tanah peninggalan orangtua, pria kelahiran 30 Desember 1944 ini, menjelaskan tanah tersebut dulunya ditanami berbagai jenis sayur dan buah-buahan. Ia pun sudah memahami betul bagaimana keadaan alam di tanah kelahirannya, pasang surutnya air Danau yang membuat dirinya harus menaikkan ketinggian bangunan agar tidak tenggelam.

Sudah lebih dari tiga kali, Wayan Rena mengubah ketinggian bangunan bisnis kulinernya. Yang terakhir pada tahun 2017, ia menaikkan ketinggian bangunan hingga 2 meter, karena khawatir air danau akan kembali mengalami kenaikan yang tinggi di atas normal seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri, lingkungan merupakan faktor utama yang menyebabkan naiknya air Danau Batur di mana akibat kurangnya serapan dari tanah sekitar danau, terlebih berdasarkan penelitian warga Belanda, dasar permukaan dari Danau Batur merupakan bongkahan batu yang keras, sehingga air hujan yang tertampung di danau tidak dapat diserap oleh air tanah sehingga ketinggian air terus naik.

Selain melakukan penelitian, tahun 1927 warga Belanda juga telah mewariskan hutan lindung di sekitar danau sebagai media penyerapan air, di mana tanah tersebut merupakan milik dari masyarakat lokal. Untuk menghargai masyarakat pemilik tanah tersebut, warga Belanda pun membayar dengan sejumlah uang, namun mereka menolak hal tersebut, mereka meminta sebidang tanah untuk mengganti tanah milik mereka yang telah difungsikan sebagai hutan lindung. Belanda pun menyarankan agar masyarakat membangun pemukiman di balik bukit, agar pelestarian dari Danau Batur tetap terjaga.

Wayan Rena lahir di Desa Kedisan, 30 Desember 1944, orangtuanya bekerja sebagai seorang petani. Selayaknya anak-anak petani pada umumnya pada masa itu, sepulang sekolah ia rutin membantu orangtuanya di sawah namun juga tidak mengabaikan pendidikannya begitu saja. Lulus dari SD 4 Abang di Bangli, ia kemudian melanjutkan di SMP 1 Klungkung di mana saat itu ia tinggal bersama saudaranya. Tamat SMP ia kemudian merantau ke kota Malang melanjutkan sekolah di Sekolah Hakim dan Jaksa jurusan Hakim. Alasan ia memilih sekolah tersebut karena melihat kesuksesan tetangganya yang berprofesi sebagai Hakim, pada saat ia tinggal di Klungkung. Agar ilmunya lebih terasah, ia pun melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum, Universitas Mahendradatta, kemudian melanjutkan S2 Hukum di Universitas Udayana, dan S3 Kibernologi/Ilmu Pemerintahan Baru di Universitas Padjajaran.

Tidak hanya sukses meniti karir sebagai hakim hingga ke Jakarta, darah bisnis yang diturunkan dari sang ibu pun mengantarkan kesuksesan Resto Apung yang ia dirikan. Tidak hanya dirinya, sang istri, Nyoman Sudarmi pun tidak mau kalah, di mana tidak hanya memiliki prestasi dalam dunia kecantikan, tapi juga memiliki peran besar dalam mengolah menu terutama ikan mujair nyat-nyat, kuliner khas kota Bangli yang merupakan menu andalan dari Resto Apung, selain menu ikan nila (merah) bakar, nila goreng, nila goreng bumbu, plecing kangkung, sate Bali, sambel matah dan sop nila. Seiring perkembangannya, di tahun 2013 kelihaian sang istri dalam memasak pun menuai prestasi dengan meraih Juara I Tingkat Nasional yang disiarkan oleh TVRI pada saat itu.

Memasuki area Resto Apung, anda harus melewati jalan yang sengaja dibangun di atas Danau. Jalan-jalan ini menghubungkan pondok-pondok yang dibangun di atas Danau Batur. Sehingga anda tak perlu lagi memakai atau bahkan menyewa perahu untuk menuju pondok resto yang berjumlah lima buah. Masing-masing pondok dilengkapi dengan meja kursi di atas lantai kayu, dan bila anda duduk disisi outdoornya anda dapat merasakan udara sejuk secara langsung. Acap kali pondok-pondok tersebut akan terasa bergoyang-goyang oleh ombak yang tak terlalu besar.

Pria kelahiran Desa Kedisan ini, tidak henti-hentinya menginovasi kehidupasi dengan berbagai hal seperti yang diperoleh saat pengalamannya mengunjungi berbagai negara, salah satunya Eropa Barat pada bulan Maret 2019 lalu. Ia membawa oleh-oleh bunga tulip asal Belanda yang bertujuan untuk dikembangkan di Resto Apung. Bunga tersebut berhasil ia kembangkan, meski masa kembang dari bunga tersebut hanya dalam kurun waktu 1 minggu, itu disebabkan karena sinar matahari terlalu banyak ke lahan yang ditanami bunga tulip. Kemungkinan bila diatasi dengan paranet, 80% bunga akan mekar hingga sebulan seperti dari negara asalnya Belanda. Selain itu ia juga mengembangkan wine jeruk Kintamani yang sukses dan berhasil diproses untuk mendapatkan produk yang berkualitas.

Terlepas dari kesuksesan membangun Resto Apung, bagi pasangan suami istri ini, harta merupakan hal yang bersifat sementara, yang terpenting di dunia ini adalah mengamalkan perbuatan baik dalam setiap sisi kehidupan. Atas dasar itu, Wayan Rena dan Nyoman Sudarmi memiliki komitmen untuk senantiasa berbagi. Berbagi rejeki maupun ilmu pengetahuan yang dapat memberi manfaat bagi setiap individu, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga keluarga, teman dan lingkungan sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!