Pengabdian Lima Puluh Tahun Memajukan Pariwisata Sanur

Setengah abad yang lalu, salah seorang putra daerah Sanur, Ida Bagus Tjethana Putra, B.Sc jeli melihat potensi pariwisata di daerahnya sehingga berkeyakinan untuk maju bergerak secara mandiri mengelola potensi yang ada. Kontribusinya untuk memajukan pariwisata Sanur agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas dimulai dari pembangunan di bidang perhotelan dengan mengedepankan unsur kearifan lokal. Ia juga memiliki peran penting dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, agar mampu bersaing di dunia industri. Berkat dedikasinya tersebut akhirnya memunculkan multiplier effect baik di bidang sosial dan pembangunan ekonomi di wilayah Sanur.

Ida Bagus Tjethana Putra lahir di keluarga keturunan Wangsa Brahmana yang bermukim di Griya Jero Gede Sanur. Meskipun pada masa itu yakni pasca kemerdekaan, pendidikan bagi penduduk pribumi masih menjadi suatu hal yang mewah. Tetapi Keluarga Ida Bagus Tjethana Putra sangat mendukung dalam hal pendidikan. Terbukti setelah dirinya menamatkan pendidikan SMP pada tahun 1953, ia melanjutkan kembali ke jenjang SMA di Surabaya. Setelah tamat pada tahun 1956, ia didorong oleh keluarganya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia diterima masuk di salah satu kampus negeri terbaik di Indonesia yaitu Universitas Gajah Mada. Tahun 1960 ia pun berhasil menamatkan kuliah tepat waktu di Fakultas Ekonomi.

Berbekal latar belakang pendidikan tinggi, dengan mudah ia diterima bekerja di suatu perusahaan daerah milik Pemerintah Daerah Provinsi Bali. Kemudian pada tahun 1966, hotel legendaris Bali Beach mulai beroperasi di daerah Sanur sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja. Ida Bagus Tjethana Putra menjadi salah satu yang bergabung dalam manajemen perusahaan, dengan posisi awal yaitu Kordinator Training. Berkat kecakapan kerja yang ditunjukkannya, dalam waktu satu tahun ia mulai dipromosikan untuk posisi Asisten Personalia.

Mendirikan Hotel

Selama bekerja di industri pariwisata, Ida Bagus Tjethana Putra banyak belajar mengenai seluk beluk perhotelan yang tidak ia dapatkan di sekolah formal. Saat itu ia mulai bercita-cita untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan juga masyarakat yang ada di wilayah Sanur melalui pengembangan potensi daerah yang mereka miliki. Harapannya adalah pariwisata digerakkan oleh, dari dan untuk lokal.

Gagasannya itu kemudian mulai direalisasikan pada tahun 1972, di mana ia memberanikan diri membangun sebuah akomodasi penginapan 6 kamar. Lokasinya yang strategis, yaitu di pesisir pantai Sanur, ternyata menarik minat banyak wisatawan untuk datang menginap. Terutama pada saat high season seperti pada liburan Natal dan Tahun Baru, tingkat occupancy kian melonjak. Bahkan karena kekurangan kamar, tamu-tamu yang ingin menginap diarahkan datang ke kediaman pribadi milik Ida Bagus Tjethana Putra. Mereka pun tidak berkeberatan asalkan mendapat tempat untuk bermalam.

Bungalow yang diberi nama Santrian Beach Cottages inilah yang nantinya menjadi cikal bakal Santrian Group dengan total 128 kamar. Namun pada masa awal beroperasi, Ida Bagus Tjethana Putra tidak pernah menyangka bahwa penginapan sederhana miliknya akan menggurita. Ia hanya berkeyakinan melalui usaha ini dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Di balik keberhasilan Ida Bagus Tjethana Putra dalam mempelopori bisnis akomodasi yang digerakkan oleh pengusaha lokal, ternyata ada sosok yang tidak kalah penting. Ia adalah istri dari Ida Bagus Tjethana Putra, yaitu Anak Agung Ayu Roosiawati. Peran Sang Istri sangat besar dalam membantu Ida Bagus Tjethana Putra mengembangkan penginapan tersebut. Ia menjadi sosok perempuan serba bisa dalam manajemen operasional hotel, mulai dari menyiapkan makanan untuk para tamu, menyediakan layanan binatu, hingga berperan di depan sebagai penerima tamu.

Setelah satu tahun menjalankan usaha penginapan, akhirnya Ida Bagus Tjethana Putra resmi mengundurkan diri sebagai karyawan Bali Beach. Ia ingin mendedikasikan seluruh waktunya untuk pengembangan usaha yang telah dirintisnya bersama Sang Istri tercinta. Pelan namun pasti, usaha tersebut kian berkembang ditandai dengan bertambahnya jumlah kamar. Melalui modal pinjaman dari Bank, akomodasi itu bermetamorfosis menjadi Griya Santrian Resort dengan 128 kamar. Pada tahun 1985, Ida Bagus Tjethana Putra mendirikan hotel lainnya yang diberi nama Santrian Beach Bungalow yang sekarang dikenal dengan nama Puri Santrian Resort. Setelah itu ia berkesempatan membuka akomodasi ketiga yang diberi nama The Royal Santrian Luxury Beach Villa. Ketiga akomodasi tersebut saat ini berjumlah 347 kamar berbintang 3 dan 4.

Perkembangan pesat dari Griya Santrian Resort yang akhinya menjadi Santrian Group tidak lain karena idealisme seorang Ida Bagus Tjethana Putra untuk mempertahankan unsur budaya lokal di akomodasi miliknya tersebut. Mulai dari mempertahankan gaya arsitektur Bali pada bangunan hotel hingga menyediakan ruang untuk kegiatan seni yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku seni di Bali. Nuansa khas Bali yang kental serta aktivitas berkesenian yang rutin digelar di hotel tersebut kemudian menjadi daya tarik yang masih dipertahankan hingga sekarang. Inilah yang menjadikan Griya Santrian dan Puri Santrian sebagai ikon pariwisata Sanur.

Pengabdian

Selain mengembangkan bisnis akomodasi, Ida Bagus Tjethana Putra juga mengembangkan imperium bisnisnya ke berbagai lini usaha. Sebut saja bisnis kuliner The Village Restaurant, Soya Restaurant, Arena Pub and Restaurant, Arena Living, The Village Home dan Seawalker. Melalui berbagai usaha ini ia telah membuka perluasan kerja khususnya para SDM yang ada di Bali.

Di sela-sela rutinitas mengelola usaha, Ida Bagus Tjethana Putra mendedikasikan tenaga dan waktunya untuk memajukan Desa Sanur lewat sektor pariwisata. Mengawali langkahnya dengan menjadi salah satu pendiri Yayasan Pembangunan Sanur (YPS). Kemudian bekerja sama dengan pihak swasta baik dari dalam maupun luar negeri untuk menyelenggarakan pelatihan kerja bagi para pekerja pariwisata yang ada di Sanur. Melalui kegiatan ini, telah meningkatkan wawasan serta pengetahuan para pekerja mengenai standar hospitality di industri pariwisata.

Pelatihan yang awalnya diperuntukkan untuk kalangan profesional itu, kemudian mulai dikembangkan agar mampu mengakomodir permintaan dari masyarakat umum. Hal itu terwujud melalui pendirian sebuah pusat pembelajaran pariwisata. Ada pula untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat Sanur di sektor pendidikan, YPS juga mendirikan Taman Kanak-kanak dan SMP Wisata. Selain fokus pada bidang pembangunan SDM, Yayasan Pembangunan Sanur di bawah kepemimpinan Ida Bagus Tjethana Putra juga mendirikan Bank Desa Sanur, Koperasi Unit Desa, dan tiga pasar desa yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Sanur.

Sebagai wirausahawan sekaligus praktisi pariwisata, Ida Bagus Tjethana Putra juga mendedikasikan dirinya dengan terjun di berbagai organisasi profesi dan kepariwisataan antara lain : Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Komite Kadin Bali, Komite PATA Bali, Komite APINDO Bali, dan Komite IAPINDO Bali. Ia juga kerap menghadiri konvensi internasional seperti PATA, ITB Berlin, AHRA dan ATF.

Atas dedikasinya yang panjang dan signifikan, Ida Bagus Tjethana Putra acapkali menerima penghargaan. Salah satunya yang paling anyar adalah Satya Lencana Kepariwisataan tahun 2019 yang diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Lainnya adalah : Penghargaan Karya Karana Pariwisata Tahun 2005 dari Gubernur Bali, Tri Hita Karana Award 2001-2002, mendapat pengakuan pada tahun 1995 dari Lions International bersama Jawa Pos Group Jawa Timur terpilih sebagai “10 Eksekutif 1994”. Serta masih banyak lagi deretan penghargaan lainnya yang telah disematkan pada Ida Bagus Tjethana Putra.

Kini upaya pengabdian Ida Bagus Tjethana Putra masih berlanjut. Namun ia lebih berfokus mengemban swadharma selaku Sulinggih bergelar Ida Pedanda Gede Dwija Ngenjung. Pengabdian di bidang spiritual ini telah dilakukan sejak tahun 2009, bertujuan untuk menyucikan diri sekaligus membantu umat dalam berbagai kegiatan ritual upacara.

Sementara untuk urusan pengelolaan bisnis, kini telah dipercayakan kepada empat putra mereka, Ida Bagus Ngurah Agung Kumbayana, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, MBA, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, dan Ida Bagus Agung Awatara Putra. Putra keduanya yaitu Ida Bagus Gede Sidharta Putra saat ini dipercaya menjadi ketua Yayasan Pembangunan Sanur. Ia juga secara rutin melibatkan diri pada festival budaya dan seni tahunan di Sanur yaitu Sanur Village Festival.

Meskipun tidak lagi terlibat langsung seperti dahulu, namun torehan jasa Ida Bagus Tjethana Putra selama setengah abad ini akan terus dirasakan khususnya di wilayah Sanur. Ia telah menjadi peletak pondasi kepariwisataan sehingga menjadikan Sanur sebagai Desa Wisata berkarakter budaya dan kearifan lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!