MISI MEMPROMOSIKAN KULINER TRADISIONAL BALI

Di tengah tren menjamurnya kafe dan restoran di Bali yang mengadopsi konsep tempat makan dari luar, Art Café Bumbu Bali justru mempertahankan idealismenya menyajikan aneka kuliner khas lokal. Sang Pencetus usaha ini, Heinz von Holzen, ingin menunjukkan bahwa makanan tradisional dari Pulau Dewata juga bisa “naik kelas” dengan menyesuaikan gaya presentasi makanan tersebut. Setelah 23 tahun berjalan, kini pengelolaan restoran tersebut ditangani oleh putra tercinta, Putu Fabian von Holzen.

Mempertahankan sebuah usaha, nyatanya memang selalu tidak lebih mudah dari saat awal mendirikannya. Salah satu strategi yang dilakukan pengusaha untuk bisa mempertahankan eksistensi usaha yang telah berjalan selama puluhan tahun adalah dengan melakukan regenerasi usaha. Seperti yang terjadi dalam manajemen Art Café Bumbu Bali. Di tangan Sang Penerus, Putu Fabian von Holzen, sebuah misi memperkenalkan cita rasa makanan khas Bali dapat terus dilanjutkan dengan tetap mempertahankan rasa yang otentik.

“Ayah saya telah mendedikasikan waktunya dua dekade lebih untuk mengolah berbagai resep masakan, di saat beliau pensiun tentunya harus ada yang melanjutkan,“ ujar Putu Fabian yang mengaku mencintai dunia masak memasak sejak kecil.

Menu Art Café Bumbu Bali

Ditanya mengenai penggunaan nama Bumbu Bali sebagai merk dagang, Putu Fabian menjelaskan bahwa branding restoran tersebut adalah menyajikan masakan Bali secara umum. Frase “Bumbu Bali” itu menunjukkan bahwa restoran ini menghadirkan semua varian makanan yang menggunakan racikan bumbu khas Pulau Dewata. Jadi tidak hanya merujuk pada satu atau dua jenis menu masakan saja. Berbeda dengan tempat makan yang menyajikan menu masakan Bali lainnya, biasanya hanya menyajikan menu yang spesifik saja.

“Semua jenis masakan khas Bali ada di restoran kami, mulai dari lauk pauk, sayuran, hingga makanan penutup. Jadi kita membuat sebuah rumah untuk makanan Bali,” kata pria berdarah campuran Swiss-Bali tersebut.

 

Benar saja, aneka masakan Bali bisa ditemukan di restoran yang berlokasi di Jl. Siligita No.101, Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, tersebut. Mulai dari menu-menu populer seperti babi guling, ayam dan bebek betutu, ketipat cantok, sate babi, sate lilit, babi kecap, dan nasi campur Bali. Hingga khasanah menu khas daerah tertentu yang bisa ditemukan di daerah tertentu saja, seperti belayag khas Singaraja. Serta makanan yang tercipta dari budaya agraria masyarakat Bali zaman dulu, yaitu jukut ares yaitu sayuran berkuah dari batang pisang dipadukan dengan daging atau sayur lainnya.

Ada juga berbagai kudapan manis yang biasa disajikan sebagai makanan penutup. Antara lain, bubuh injin, jaja injin, dadar, sumping, laklak, jaja batun bedil, dan bubuh kacang ijo. Sedangkan menu minuman yang ada di Art Café Bumbu Bali mengadopsi beberapa menu dari luar. Hanya saja minuman khas Pulau Dewata seperti loloh atau jamu khas Bali, tetap diminati oleh para konsumen untuk sekedar mengetahui cita rasanya.

Putu Fabian menjelaskan bahwa keseluruhan menu dibuat dari resep yang otentik warisan para leluhur masyarakat Bali. Satu-satunya upaya modifikasi yang dilakukan adalah soal cara penyajian makanan. Presentasi masakan diatur sedemikian rupa agar terlihat lebih estetik dan menggugah selera. Meskipun cita rasa masakan Bali yang dikenal kaya akan rempah dan sedikit pedas ini tidak familiar di lidah wisatawan mancanegara, namun turis asing justru mendominasi tingkat kunjungan di restoran tersebut.

“Terkadang ada dari tamu kami yang merasa makanan kami terlalu pedas bagi lidah mereka, kami akan siap menyajikan makanan yang baru untuk menggantikan yang disajikan sebelumnya. Namun kami tetap mengedukasi mereka bahwa inilah cita rasa makanan khas Bali yang sesungguhnya, seperti yang disajikan di rumah-rumah penduduk lokal yang ada di sini,” tutur pria yang sejak kecil sudah aktif di dapur membantu usaha kedua orangtuanya.

Tidak hanya berupaya menghadirkan makanan berkualitas di atas meja pengunjung, Putu Fabian dan timnya juga berupaya mengajak para tamu untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan makanan khas Bali. Terdapat sesi kelas memasak yang dipandu oleh Sang Ayah, Heinz von Holzen. Peserta juga diajak untuk membeli bahan baku masakan di pasar tradisional serta mengetahui cara memilih bahan-bahan berkualitas. Hal itu juga sekaligus menekankan bahwa Art Café Bumbu Bali selalu peduli terhadap kualitas bahan baku demi menyajikan makanan terbaik untuk para pengunjung.

Memadukan Keindahan Rasa dan Visual

Sesuai dengan namanya, tampilan keseluruhan bangunan Art Café Bumbu Bali dibuat dengan penataan artistik yang seimbang. Seni menjadi bagian penting dari keseluruhan tema restoran, mengingat pemiliknya, baik Heinz maupun Fabian menyukai dunia seni. Putu Fabian merupakan seniman foto dan sinematografi yang kerap mengabadikan keindahan alam bawah laut nusantara. Sehingga tak mengherankan banyak karya visual foto menghiasi dinding-dinding restoran.

Seni menurut Putu Fabian tidak hanya terbatas pada karya visual. Menurutnya, memasak pun merupakan sebuah aktivitas berkarya seni. Bagaimana memadukan satu bahan dengan bahan lainnya agar menciptakan rasa makanan yang luar biasa. Juga bagaimana menyajikan makanan yang lezat tersebut di atas piring saji agar orang tergugah untuk menikmatinya. Selanjutnya saat menikmati hidangan, pemandangan di lingkungan sekitar juga ikut menentukan kenyamanan waktu bersantap tersebut.

Saat ini, Putu Fabian mengisi kesehariannya dengan mengelola Art Café Bumbu Bali dan restoran cabang, yaitu Bumbu Bali Tanjung. Sementara itu ia juga mencoba mengepakkan sayap usaha dengan membuka fasilitas akomodasi penginapan yang berlokasi tepat di atas restoran Art Café Bumbu Bali. Penginapan berjumlah enam kamar itupun dinamakan Di Atas, merupakan hunian yang bersih dan nyaman.

Ke depannya, Putu Fabian belum merencanakan ekspansi usaha ke bidang lainnya. Ia mengaku telah jatuh cinta pada dunia memasak dan fotografi sehingga enggan untuk mencoba hal lain. Ia berharap dengan terus berfokus pada usaha kulinernya saat ini, ia dapat meneruskan misi mempromosikan kenikmatan kuliner tradisional Bali sehingga lebih dikenal di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!