Meyakini Makna Kehidupan Berpijak pada Pengetahuan

Hakikat kehidupan manusia adalah perjalanan menuju akhir hidup, suka maupun tidak suka manusia akan mencapai akhir kehidupannya. Namun hendaknya tidaklah benar mengisi hidup dengan berpangku diri. Terus mengisi pikiran dengan ilmu pengetahuan adalah proses menjalani kehidupan yang sejati. Demikian falsafah hidup yang diyakini sesosok pengusaha jasa kontraktor umum bernama Ida Bagus Sutha, S.T. Ia berupaya mencari pengetahuan sepanjang kehidupan khususnya spiritualisme sembari tetap menjalankan swadharma lainnya yaitu memimpin perusahaan PT Jaya Graha Utama.

Dalam perspektif kehidupan seorang Ida Bagus Sutha, menapaki tahapan hidup ini yang pertama adalah mengabdi pada ilmu pengetahuan. Mengutip ungkapan dari salah satu sastra yaitu Taki-Takining Sewaka Guna Widya yang berarti mengabdi pada ilmu pengetahuan sampai ilmu itu memberikan manfaat atau guna dalam menapaki hidup ini. Ida Bagus Sutha menambahkan bahwa mencari ilmu tidak harus didapat dari lingkungan formal, melainkan bisa juga diraih dari lingkungan non formal.

Seperti halnya dirinya yang sejak kecil telah mengakrabi nilai-nilai kebijaksanaan yang bersumber dari sastra. Pria kelahiran Karangasem tahun 1971 ini bertumbuh dan dididik di lingkungan keluarga Brahmana, yaitu memegang peranan sebagai pendeta suci dalam klasifikasi Catur Warna di Bali. Sehingga tidak heran bila ia telah mengenal aspek kehidupan yang bersifat spiritual dari usia kanak-kanak.

“Dahulu sewaktu masih anak-anak, saya sudah sering mendengar kisah dari dua epos besar dalam Agama Hindu. Yakni kisah kepahlawanan yang ada dalam cerita Mahabarata dan Ramayana. Banyak nilai-nilai dari cerita tersebut yang masih relevan dalam kehidupan masa kini”, ujar Gus Sutha.

Setelah beranjak dewasa pun, ia masih terus berusaha meningkatkan kadar spiritual dalam diri. Ida Bagus Sutha mengaku belajar spiritual tidak hanya dari perspektif Hindu saja. Ia juga membuka diri untuk menerima wawasan dari keyakinan lainnya dengan tetap mengupayakan filterisasi terhadap ilmu yang dipelajari. Sehingga ia semakin memahami makna dari toleransi antar umat beragama.

Banyak hal yang ia dapat sebagai manfaat dalam mengisi diri dengan ilmu pengetahuan, baik dari pandangan sains maupun spiritual. Melalui ilmu pengetahuan, seseorang bisa menganalisis sesuatu saat ingin mengambil keputusan dalam hidupnya, pun melalui ilmu pengetahuan seseorang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Oleh karena itu, sejak dulu Ida Bagus Sutha tetap semangat meraih pendidikan setinggi- tinggi meskipun banyak anak-anak seusianya yang merasa cukup hanya sampai menamatkan sekolah dasar.

Sekilas mengenai kehidupan masa kecil Ida Bagus Sutha yang dipenuhi dengan keceriaan namun tetap dalam kesederhanaan khas warga pedesaan. Sang ayah berprofesi sebagai undagi yaitu pembuat bangunan suci di Bali. Selain mengerjakan pembangunan tempat persembahyangan Hindu, ayahnya juga menjual berbagai material bangunan seperti batu, semen, dan pasir. Lantaran sering menyaksikan aktivitas kerja ayahnya, Ida Bagus Sutha berkeinginan suatu saat nanti dapat belajar pengetahuan yang dapat membantu usaha ayahnya tersebut.

Ketika lulus dari jenjang pendidikan SMA, ia mantap untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Pada saat pendaftaran kuliah, ia mencari informasi seputar jurusan yang seyogyanya dapat mengakomodir cita-cita masa kecilnya. Dari sekian banyak pilihan akhirnya ia melabuhkan pilihan pada Jurusan Teknik Sipil di Universitas Warmadewa.

Selama menjalani masa perkuliahan, Ida Bagus Sutha termasuk jajaran mahasiswa yang aktif di kegiatan kemahasiswaan. Salah satunya dengan mengikuti kelompok seni bela diri Perisai Diri. Melalui minat dan bakat itu ia berkesempatan mewakili kampus dalam berbagai ajang kompetisi, baik di Bali maupun di luar daerah. Misalnya saja pengalaman saat mewakili almamaternya berkompetisi di Universitas Diponegoro Semarang.

Menjelang akhir masa kuliahnya yaitu pada tahun 1997, ia mendapat tawaran menjadi pelaksana pembangunan sebuah rumah milik saudaranya. Tawaran pun disanggupinya dan menjadi proyek pertama yang ia jalani sebagai seorang kontraktor profesional meski pada saat itu ia belum mengibarkan bendera usahanya. Setelah proyek tersebut, ia mulai mendapat tawaran mengerjakan proyek lainnya baik dari pemerintahan maupun swasta.

Proyek lainnya yang sempat ia tangani adalah pembangunan gedung UKM di Universitas Udayana. Dalam mengerjakan jasa kontraktor umum, Ida Bagus Sutha berkomitmen untuk memberikan kualitas hasil akhir yang memuaskan dan sesuai dengan target anggaran yang diinginkan oleh klien. Selain itu ketepatan waktu menjadi nilai tambah yang terus ia pertahankan guna meningkatkan rasa kepercayaan para klien.

Akhirnya pada tahun itu, Ida Bagus Sutha meresmikan perusahaannya dalam bentuk badan hukum PT Jaya Graha Utama guna meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan jasa yang ia tawarkan. Beberapa proyek yang telah dikerjakan antara lain pembangunan Pasar Blahbatuh, Pasar Medahan, dan Gedung Universitas Hindu Indonesia. Perusahaan yang beralamat di Jl. Siulan No. 237 Denpasar ini juga dipercaya menangani proyek pembangunan Kantor Urusan Agama (KUA) di Karangasem.

Ida Bagus Sutha juga melanjutkan usaha penjualan material bangunan yang dirintis orangtuanya dengan membuka sebuah toko di Denpasar. Artinya ia sendiri telah memenuhi cita-citanya dahulu yaitu mengembangkan usaha yang menjadi sumber penghidupan keluarganya sejak dahulu. Suami dari Ida Ayu Bintang Suini tersebut meyakini sebuah hukum bernama ‘law of atraction’. Bahwa apapun yang difokuskan dalam pikiran dan rasa, adalah hal yang akan ditarik dan hadir ke dalam kehidupan. Namun tentunya pemikiran tersebut diimbangi dengan usaha yang nyata agar dapat mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!