Menikmati Menu Prasmanan yang Lezat Berlatar Gunung dan Danau Batur

Sebagai pelaku pariwisata, Kadek Parnata merasakan kondisi pariwisata agak bergeser, khususnya Desa Kintamani, Kabupaten Bangli. Awal tahun 2000-an wisatawan sudah jarang mengunjungi Bangli, bila dulu berlibur ke Bali rasanya belum lengkap bila belum mengunjungi daerah berhawa sejuk ini, kini wisatawan lebih banyak menghabiskan waktu di Denpasar. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan tersendiri, namun ia optimis Bangli dapat menjadi daerah ‘pelarian’ dari kebisingan Kota Denpasar saat ini.

Kadek Parnata lahir dari ayah yang hanya tamatan Sekolah Dasar, sedangkan sang ibu tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Ia merupakan anak laki-laki satu-satunya, dari tiga bersaudara, yang sudah mengenal kerja keras dan kedisiplinan sejak kecil. Agar ia dan keluarga dapat dipenuhi kebutuhannya, sang ayah harus bekerja keras, dari bekerja sebagai petani hingga menjual kain atau dalam bahasa Bali dikenal dengan nama “ngalu” di daerah Tabanan dan Gianyar. Kadek Parnata pun ikut membantu orangtua bekerja, setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Tahun 1970 setelah Gunung Agung meletus, sang ayah kemudian memutuskan mengajak keluarga untuk keluar dari desa agar dapat terus memenuhi kebutuhan.

Didikan untuk bekerja keras dan kedisplinan dari orangtua, menjadi sebuah pelajaran berharga untuknya dan dua saudaranya. Hal ini terlihat dari, hukuman yang ia terima saat Kadek Parnata pernah bolos dari sekolahnya. Hukuman yang ia dapatkan dari sang ayah, tubuhnya memar dari yang kemarahan luar biasa. Sejak saat itu, jangankan melakukannya, memikirkan untuk bolos saja, mengerikan baginya.

Di usia delapan tahun, Kadek Parnata dan saudaranya memulai sebuah usaha baru, yakni beternak ayam petelur. Saat itu sekitar tahun 1987an, belum banyak masyarakat yang berternak ayam sebanyak 2000 ekor. Salah satu pekerjaan yang ia ambli adalah memberi makan ayam-ayam tersebut, setidaknya sebelum pk 06.30, pekerjaan tersebut sudah diselesaikan, agar ia dapat berangkat ke sekolah.

Pulang sekolah, pria yang merupakan lulusan pendidikan parwisata ini kembali melakukan aktifitasnya memberi makan ayam dan mencari air di keran umum. Ia harus membawa kereta dorong bersama kakaknya, dan mengantri bersama masyarakat lainnya, untuk mendapatkan air. Pekerjaan itu ia kerjakan sehari-hari tak terkecuali di hari Minggu.

Di bangku kuliah, Kadek Parnata mengambil jurusan pariwisata, yang merupakan pilihan terakhirnya, di mana ia sempat mendaftar kuliah di salah satu universitas swasta Surabaya, jurusan teknik kimia, namun sang ibu memintanya untuk mengambil jurusan pariwisata, agar dapat meneruskan warung kopi.

Lahir dari warung kopi itulah, Kadek Parnata mampu mengembangkan usaha keluarga hingga sebesar seperti sekarang ini, dan berganti nama menjadi Gong Dewata. Bila sebelumnya masih berupa warung kecil, ibunya hanya menjual kopi tubruk dan sembako. Kemudian berkembang menjadi warung dengan empat meja, di tahun 1996. Tahun 2001 Kadek Parnata lulus kuliah, ia sempat magang dibeberapa tepat, kemudian pulang ke Bangli untuk membangun bisnis kuliner Gong Dewata Restaurant. Tahun 2002 ia mulai merenovasi beberapa sudut bangunan dengan modal yang tidak begitu besar, sehingga ia harus meminjam modal dengan cara kredit.

Tahun 2002, di saat Kadek Parnata sedang giat-giatnya membangun usaha, terjadi peristiwa bom Bali I yang memberikan dampak yang luar biasa untuk kondisi keamanan Bali, terutama dalam dunia pariwisata. Tahun 2005 ia semakin mengembangkan lagi bisnisnya dengan menggunakan kredit, utang pun bertambah banyak dan peristiwa ledakan bom terjadi kembali dan ia terpaksa menjual mobilnya.

Lambat laun segala tantangan dalam mengembangkan bisnisnya dapat teratasi. Gong Dewata menjadi salah satu restoran favorit wisatawan saat mengunjungi Desa Kintamani, menghadirkan menu Indonesia hingga Asia dengan konsep prasmanan. Hadir di kawasan yang sejuk, Jalan Raya Panelokan, Anda dapat menikmati makanan yang lezat dengan panorama alam Gunung Batur dan danaunya yang memanjakan mata. Gong Dewata menyediakan tempat duduk di teras belakang, area terbuka bersama keluarga hingga rombongan besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!