Membuka RAHASIA dibalik PEDASNYA NASI PEDAS BU ANDIKA

Bali sebagai daerah penyuka makanan dengan rasa pedas dan asin, menjadi ladang rezeki bagi pemilik kuliner Nasi Pedas Bu Andika. Rasa sambalnya yang menjadi khas dari warung ini, tak hanya bertujuan mampu menarik perhatian masyarakat Bali, namun ternyata wisatawan mancanegara pun tertarik untuk mencoba wisata kuliner yang tak pernah sepi pengunjung ini.

Sri Sriyani menceritakan bagaimana awalnya ia menekuni usaha kuliner, meski latar belakang keluarga tidak ada yang memiliki pengalaman di bidang tersebut. Terlebih hal yang mendorongnya untuk berjualan ialah, di lingkungan tempat tinggalnya di Banyuwangi, hanya ia dan keluarga yang memiliki nasib yang kurang beruntung dalam segi ekonomi.

Pada saat seharusnya ia duduk mengenyam pendidikan di bangku kelas IV SD, Sri memilih untuk merantau ke daerah Marmoyo-Surabaya, ikut orang bekerja sebagai asisten rumah tangga kurang lebih 11 tahun. Tidak nyaman dengan hidup susah yang ia alami, ia berpikir, mungkin dengan berumah tangga, keadaan perekonomiannya lebih baik. Ia pun kemudian memutuskan untuk menikah pada tahun 1976, hingga memiliki empat orang anak.

Namun tidak seperti yang diharapkan, justru Sri Sriyani harus kembali merantau pada tahun 1986 menuju Bali. Ia tinggal di belakang Joger Bali, dengan mengontrak tanah seluas ½ are (kini menjadi dapur Nasi Pedas Bu Andika). Pekerjaan yang ia ambil, seperti mengerjakan pasuh dan bordiran, sedangkan suami mencari barang bekas untuk dijual kembali.

Berangkat dari hobi memasak, ia kemudian beralih dengan berjualan nasi bungkus dengan disuun pada tahun 1999 di Bali. Pekerjaan yang dilakoni selama sembilan tahun tersebut pun, merupakan saran dari salah satu temannya yang mengatakan bahwa hasil masakannya memang enak. Karena percuma datang ke Bali, bila hanya bekerja sebagai penjahit saja. Meski masih ada rasa malu dan kurang percaya diri, ia pun mencoba berjualan, namun hanya menanak nasi sebanyak 1-2 kg.

Seiring berjalannya waktu Sri kemudian berpikir, mengapa ia harus malu, karena dari berjualan nasi saja, ia bisa menghasilkan omset untuk kebutuhan keluarga. Ia pun semakin memperyakin dirinya sebelum membangun usahanya lebih berkembang, dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan melakukan puasa selama 27 hari.

Dari tukang suun nasi, kemudian berjualan nasi secara emperan, pembeli yang datang pun semakin banyak, sehingga lokasinya tidak cukup untuk menampung antusias masyarakat untuk mencoba nasi pedas tersebut. Sri kemudian membeli lokasi di daerah Legian pada tahun 2000, kemudian berlanjut membeli lokasi lagi di Nusa Dua di tahun 2004.

Saat peristiwa Bom Bali 2002, justru meraup keuntungan bagi Nasi Pedas Bu Andika, sama halnya pada Bom Bali 2006, saat orang-orang memilih untuk pulang ke tempat asalnya, Sri memilih untuk tetap di Bali. Hingga ia membuka warungnya selama 24 jam dan melayani pembeli sendiri, tanpa karyawan, membuat ia kewalahan. Setelah beberapa bulan, Sri kemudian menambah dua orang karyawan di usaha kulinernya.

Nama “Andika” sendiri, merupakan anak pertama dari empat orang anak Sri Sriyani, namun sedikit yang mengetahui hal ini, sehingga wanita asal Banyuwangi ini lebih akrab disapa Bu Andika, dibandingkan namanya sendiri. Nama kuliner yang ia bangun pun diambil dari kebiasaan orang-orang yang menyebutnya dengan nama Nasi Pedas Bu Andika, khususnya oleh masyarakat Bali itu sendiri.

Nasi Pedas Bu Andika berlokasi di Jalan Blambangan No. 55, Jalan Patih Jelantik Ruko No. 9 Legian, Kuta dan Jalan Raya Kuta. Sangat ramai saat jam makan siang (12:00 – 14:00) dan saat makan malam (19:00 – 21:00), digandrungi oleh berbagai kalangan, seperti anak kos, pegawai kantor, driver, karyawan, dan masyarakat sekitar daerah Kuta, yang selalu antre demi menikmati masakan Bu Andika. Diantara cabang-cabang tersebut, mungkin lokasi di Jalan Blambangan, belum sesohor di cabang-cabang lainnya, Bu Andika pun mengundang pelanggan bila sedang dekat dengan lokasi ini, dapat segera datang, karena rasanya tidak berbeda kualitas dengan cabang lainnya. Karena Ibu Andika langsung ikut turun tangan memasak lauk pauk di cabang Blambangan, yang selalu lengkap dan tersedia banyak varian tambahan menu. Tak jarang ia juga membagikan menu tersebut ke cabang-cabang warung lainnya.

Selain lokasinya yang sejuk, nyaman dan tenang, di Blambangan juga memiliki fasilitas kamar mandi yang bersih, mushola untuk sholat dan tersedia parkiran untuk motor dan mobil, bahkan juga menyediakan parkir bus-bus atau mobil-mobil besar di Hardy’s, pengunjung tinggal menyeberang ke belakang.

Lokasi Nasi Pedas Ibu Andika begitu sederhana, menggunakan meja makan terbuat dari kayu dan kursi kayu ditata dengan rapi. Sebagian besar pelayannya selalu mengenakan baju seragam sesuai dengan sponsor. Semua menu makanan yang disediakan di warung makan ini adalah halal. Jadi jika sedang mencari tempat makan halal, harga murah di sekitar kawasan Kuta Bali, Nasi Pedas Ibu Andika salah satu pilihannya. Lauk pauk ditata dengan rapi dikelilingi kaca bening, tersedia seperti mie goreng, ayam sisit, perkedel jagung, hati ayam, semur daging sapi, ayam goreng, sate ayam, kulit ayam bumbu merah, teri goreng, kacang tanah goreng dan tentu saja yang paling dicari pengunjung ialah sambal andalannya yaitu sambal pedas. Terbuat dari tomat, cabai merah besar dan kecil, terasi, garam dan digoreng dengan api yang sedang.

Kesuksesan Sri Sriyani membuka usaha kuliner nasi pedas, seolah sudah mampu menggantikan keseluruhan sulitnya kehidupannya terdahulu. Bahkan ia sudah mampu menunaikan kewajibannya sebagai umat Muslim untuk umroh dan naik haji, serta mengajak orangtuanya. Kulinernya pun semakin diberkahi dengan kehadiran para pemuka agama, yang tidak jarang memberinya masukan soal konsep dalam menjalani hidup ini. Yakni keseimbangan antara, bekerja dan waktu untuk keluarga.

Hal ini pun diyakini Sri Sriyani dari hubungan harmonis dapat menjaga agar rezeki terus dilancarkan, dan kemudahan -kemudahan dalam berbisnis maupun menjalin hubungan kekerabatan pun semakin dipererat dalam berbagai kegiatan positif. Ia pun berharap kedepannya, putra-putrinya dapat lebih sukses daripada dirinya, sesuai dengan bidang yang mereka tekuni, tentu dibarengi dengan pertumbuhan karakter yang baik, menjadi hal yang tidak kalah penting menggapai masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!