Mantan INSURANCE SALES yang SUKSES Menjajal DUNIA USAHA

Pada masa Kota Denpasar lebih banyak orang menyebut atau lebih dikenal sebagai kabupaten “Badung”, dan ibukota Nusa Tenggara, masih dipegang oleh Kabupaten Singaraja, M. Hasan telah menginjakan kakinya di Kabupaten Badung. Pahit manis telah ia rasakan demi mempertahankan apa yang telah ia usahakan demi keluarga tercinta, sembari melakukan kegiatan sosial, menjalin kerukunan dengan umat Hindu di daerah tempat tinggalnya.

Tak dapat menyelesaikan kuliahnya di Akademi Perbankan di Surabaya, karena kakeknya yang telah mengadopsinya, meninggal dunia. M. Hasan pun tak dapat mewujudkan keinginannya untuk bekerja di Bank, Ia kemudian putuskan untuk menjadi insurance sales sejak tahun 1975-1993. Pada tahun 1979, berkat kegigihannya dalam bekerja, pria berusia 68 tahun ini, mendapat promosi jabatan, yakni sebagai Kepala Cabang Asuransi Buana Putra Jawa Timur selama tiga tahun. Posisi tersebut ia raih tak hanya berkat kerja keras, namun juga karakternya yang luwes dalam bergaul, tak sedikit serta sanak keluarga dan rekan-rekannya yang ikut membantu, dengan bergabung sebagai nasabah Asuransi Buana Putra.

Setahun sebelum perusahaan tersebut bangkrut, M. Hasan mendapat info dari rekannya yang mengungkapkan untuk segera keluar dari asuransi tersebut yang mulai goyah. Ia pun akhirnya berhenti dan bangkit kembali memulai karirnya sebagai salesman sepatu keliling. Relasi yang ia kenal, ia manfaatkan untuk mencari pesanan di seluruh Bali, meliputi sepatu handmade hingga pabrik. Selama dua tahun, tepatnya tahun 1993-1995, M. Hasan bertindak sebagai salesman, hingga akhirnya sebelum pensiun ia sudah mempersiapkan toko sepatu yang berlokasi di Ubung, yang statusnya masih kontrak selama 25 tahun dari pemilik keturunan Cina-Bali asal Pupuan.

Kesuksesannya dalam membangun dan mengelola toko, sebelum sistem waralaba dikenal masyarakat, ia buktikan dengan memiliki sebelas buah toko sepatu, pada masa itu. Namun kelemahan dari sistem ini akhirnya hanya menyisakan empat cabang hingga saat ini, meliputi di Jalan WR. Supratman, Jalan Gunung Rinjani, Jalan Cokroaminoto dan Ubud.

Tak hanya berbisnis sepatu, M. Hasan juga membuka usaha mini market, meski sempat collapse karena kemunculan bisnis retail franchise dan merambah lembaga keuangan dengan membangun BPR yang berlokasi di Jalan Sunset Road, bernama Fajar Sejahtera Bali. Di saat usia 60 tahunan, M. Hasan sempat ingin istirahat dari bisnis-bisnisnya tersebut, namun ada sebuah tawaran dari rekannya di Surabaya, yakni mengajaknya untuk berbisnis buah kurma.

Buah yang memiliki cita rasa manis dan identik dengan umat Muslim ini, akhirnya diputuskan oleh M. Hasan untuk fokus dalam bisnis ini, sedangkan bisnis lainnya ia wariskan kepada keluarganya. Selain karena harganya yang tinggi mencapai 300 ribu pada masa itu, buah ini pun memiliki potensi baik untuk kesehatan, diantaranya meningkatkan kesehatan jantung, menjaga kesehatan otak, mencegah risiko diabetes, mencegah anemia.

Hidup Bertoleransi

Selain sebagai pengusaha, M. Hasan yang lahir pada tahun 1951 di Seririt, Buleleng ini sudah terbiasa hidup bertoleransi dalam masyarakat komunitas Hindu sejak kecil. Ia sering kali mengikuti kegiatan ngayah di pura-pura dengan umat Hindu lainnya, sehingga ia fasih dalam penggunaan Bahasa Bali dan mengetahui hari suci apa yang tengah dirayakan umat Hindu di daerah tempat tinggalnya. Suasana yang akrab dan hangat semakin ia rasakan, tatkala ayah dari 10 orang anak, sekaligus kakek dari 10 cucu ini, mendapat sapaan “Wayan” oleh warga setempat, karena ia merupakan anak tertua dalam keluarga. Ia pun dengan senang hati mendapatkan perhatian, dengan diberi panggilan tersebut.

Atas pencapaiannya yang telah sukses membangun tiga bidang usaha yang berbeda, M. Hasan yang juga tergabung dalam organisasi kelompok “Bali Muslim” ini meyakini “Tuhan tidak akan memberi anugerahNYA, diluar usaha manusia itu sendiri”. Bila seseorang ingin menjadi pengusaha, ia harus mau berdagang, karena dalam ajaran agamanya, rezeki Tuhan itu 9/10nya datang dari berdagang. Setelah berhasil memiliki kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya, jangan pernah lupa untuk memanjatkan puji syukur dan terima kasih.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!