LESTARIKAN BUDAYA MANTAPKAN PARIWISATA

NOMAD Restaurant

Nomad Restaurant - Ubud

Nomad Restaurant – Ubud

Ubud merupakan bagian paling berharga yang dimiliki oleh Kabupaten Gianyar. Namun sebagai salah satu destinasi wisata, Ubud memang telah bertumbuh dengan gayanya sendiri. Semua itu tidak bisa terlepas dari keberadaan Puri Ubud yang mendorong laju perkembangan pariwisata sedemikian pesat dan menancapkan sendi-sendi kebudayaan yang kokoh serta apik di Ubud. Di sisi lain pertumbuhan pariwisata ini juga memacu pembangunan hotel, villa, dan restoran sebagai sarana pendukung kenyamanan wisatawan yang melancong ke Ubud. Di antara sekian banyak restoran bersejarah di yang berada di kawasan Ubud, Nomad Restaurant merupakan salah satu restoran milik warga Ubud yang masih bisa eksis bersaing hingga saat ini.

Nomad Restaurant terletak di Jalan Raya Ubud, sangat strategis di jantung kawasan wisata Ubud. Meski menjadi salah satu restoran tua di Ubud,  Nomad Restaurant tidak kalah dengan berbagai restoran modern lainnya. Dalam hal sajian menu, Nomad Restaurant mengombinasikan masakan Bali, selera nusantara, cita rasa Asia, dan beberapa menu western. Desain interior restoran yang dihiasi lukisan dinding bernuansa natural semakin menambah daya tarik Nomad Restaurant sebagai tempat yang menyenangkan bagi para wisatawan yang ingin menikmati santapan di siang hari maupun malam hari sambil merasakan nuansa romantis Ubud.

Nomad Restaurant - Ubud

Nomad Restaurant – Ubud

Eksistensi Nomad Restaurant saat ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kisah hidup dan jasa besar sang pendiri, Nyoman Sarma. Semasa muda, selepas menamatkan pendidikan SMA, Nyoman Sarma  bekerja di sebuah pertambangan minyak di Kalimantan Timur, sebuah keberanian untuk merantau dan menimba pengalaman di luar Bali. Dengan bantuan kakaknya yang seorang anggota polisi, Nyoman Sarma bekerja keras mencari peruntungan hidup di tanah Borneo. Namun sejauh-jauhnya orang Bali merantau, pasti suatu saat akan kembali ke Bali, tanah leluhur yang tidak pernah kehabisan pesona. Nyoman Sarma pun memutuskan kembali pulang ke Pulau Dewata setelah merasa cukup mendapatkan pengalaman dan modal dari merantau.

I Gede Sudiana Owner Nomad Restaurant bersama Ibu

I Gede Sudiana Owner Nomad Restaurant bersama Ibu

Sepulang kembali ke Bali, Nyoman Sarma menikahi pujaan hatinya Ida Ayu Putu Kariani dan memilih tinggal di Ubud. Demi menjalankan roda ekonomi keluarga, ia mulai merintis bisnis warung makan biasa pada 19 September tahun 1979 yang awalnya hanya menjual capcay dan beberapa menu masakan khas Bali. Saat itu Gede Sudiana, anak pertama Nyoman Sarma, sudah mulai turut membantu orangtuanya berjualan di warung dan mengamati segala sesuatu yang tejadi di warung.
Seiring perkembangan pariwisata di Ubud, warung yang dirintis Nyoman Sarma juga semakin berkembang, makanan yang dijual pun semakin bervariasi, menyesuaikan dengan berbagai jenis tamu wisatawan yang datang. Keuletan dan kerja keras Nyoman Sarma dalam mengembangkan Nomad Restaurant inilah menjadi inspirasi terbesar dalam diri Gede Sudiana di kemudian hari.

Nyoman Sarma masih aktif terjun langsung mengelola restoran hingga tahun 2002. Ketika anak-anak sudah tumbuh dewasa, mereka pun perlahan-lahan mulai dilibatkan dalam usaha keluarga ini, sementara Nyoman Sarma lebih fokus pada pengembangan konsep dan mengelola bidang public relation. Saat  Nyoman Sarma berpulang, estafet pengelolaan Nomad Restaurant bepindah ke tangan Gede Sudiana sebagai anak sulung. Secara bertahap desain interior dan gaya arsitektur bangunan pun diubah agar tetap bisa eksis dalam persaingan bisnis kuliner yang dinamis seiring kemajuan zaman.
Gede Sudiana melihat sudah terjadi pergeseran yang signifikan pada perilaku konsumen yang datang ke Ubud. Kini kuliner bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan makan secara biologis, tetapi sudah menjadi tren dan gaya hidup, sehingga pengusaha di bidang ini harus mengupdate menu dan konsep restorannya jika tidak ingin restorannya kehilangan pelangga.  Saat kuliner telah menjadi lifestyle, orang tidak datang ke restoran sekadar untuk makan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan panca indera: datang mendengarkan musik yang enak, melihat suasana restoran dan sekitarnya, dihidangkan makanan yang cantik, fresh, enak dilihat, membangkitkan selera, dan yang terakhir tentang enak tidaknya rasa masakan yang disajikan.

Nomad Restaurant - Foods

Nomad Restaurant – Foods

Sebagai figur yang dipercaya oleh keluarga meneruskan pengelolaan Nomad Restaurant, pria kelahiran Ubud, 8 Mei 1976 ini selalu mengingat pesan ayahnya, “Kamu harus lebih banyak belajar di jalan, lebih banyak melakukan praktek daripada sebatas teori saja. Kuliah memang penting tetapi yang lebih penting kamu langsung turun ke jalan”. Pesan itu kemudian ia aplikasikan dengan membuka diri seluas-luasnya terhadap pengalaman dan pengetahuan baru, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan restoran.
Selain mendapat penempaan oleh Nyoman Sarma, Gede Sudiana juga ditempa oleh pengalaman saat bekerja di sebuah perusahaan desain di Jakarta. Bekerja di lingkungan yang menuntut kreativitas yang tinggi memacu Gede Sudiana untuk terus belajar dan berkembang. Di sana Ia juga semakin mengerti tentang etos kerja dan bagaimana menjalin hubungan antarpersonal yang baik di tempat kerja demi membangun kerja tim yang solid. Ia pun berusaha menjalin relasi yang akrab dengan para karyawan maupun atasan.  Baginya sebuah relasi yang baik, akan memperlancar segala urusan dalam pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Kebetulan saat itu Gede Sudiana memiliki atasan yang terkenal disiplin dan tegas. Pimpinannya kala itu menerapkan tradisi one day meeting untuk melihat perkembangan perusahaan dan situasi karyawan secara harian. Dengan begitu, pimpinannya dapat mengontrol perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu dan mempererat hubungan antarkaryawan. Hal itu sangat menginspirasi Gede Sudiana. Tidak mengherankan sampai saat ini Gede Sudiana masih berhubungan baik dengan atasan yang pernah membimbingnya bekerja dulu.
Pelajaran dan pengalaman yang diperoleh dari orang tua maupun tempatnya bekerja kemudian diolah Gede Sudiana menjadi pedoman baginya dalam menjalankan Nomad Restaurant. Dalam mengelola karyawan, laki-laki yang akrab disapa Nana ini lebih ingin bisa merangkul dan maju bersama-sama, karyawan dianggap sebagai bagian dari keluarga. Dengan begitu semua karyawan memiliki semangat yang sama untuk mencapai satu tujuan. “Jika ini sudah terjadi, kita semua akan bergandengan tangan dan maju,” jelas Nana. Tidak mengherankan banyak mantan karyawan Nomad Restaurant yang datang kembali ke sana hanya untuk bernostalgia dan sharing pengalaman saat merayakan ulang tahun Nomad Restaurant.
Menurut Nana, kualitas pelayanan di sebuah restoran sangat berpengaruh terhadap produk yang disajikan. Sebuah restoran yang baik pasti pertama-tama dilihat dari bagaimana kualitas pelayanan  di dalam sebuah restoran. Menyadari hal ini Nana sangat menekankan agar para karyawan di Nomad Restaurant memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada konsumen yang datang. Dalam memberikan pelayanan kepada para pengunjung restoran karyawan harus melakukannya dengan senang hati, dengan senyum yang tulus. “Senyum itu tidak mahal karena tidak membutuhkan biaya. Bila seseorang tersenyum setiap hari akan membawa pengaruh positif secara individual dan individu akan mempengaruhi komunitas” jelas Nana.

Nomad Restaurant - Food

Nomad Restaurant – Food

Sebagai salah seorang pelaku bisnis pariwisata yang mengelola restoran di jantung Ubud, Nana berharap Ubud lebih dikembangkan menjadi kawasan ecotourism dan culture tourism. Dengan begitu, usaha yang dibangun di Ubud harus bersinergi dengan lingkungan dan budaya Ubud sendiri. Konsekuensinya unit-unit usaha di Ubud harus tetap menampilkan kultur Bali, misalnya dalam bentuk bangunan atau dekorasi. Selain itu, pengembangan socialpreneur (kewirausahaan sosial, salah satu jenis kewirausahaan yang berbasis komunitas atau mengandalkan relasi sosial yang dimiliki) juga menjadi kebutuhan yang penting di Ubud saat ini karena pemberdayaan potensi masyarakat di skala mikro dapat memberikan kontribusi positif bagi pemerataan ekonomi di Ubud, sehingga keuntungan dari pariwisata Ubud tidak hanya dinikmati kalangan atas saja tetapi dapat merata sampai lapisan bawah. Misalnya, dengan melibatkan masyarakat untuk mendukung aktivitas pariwisata atau dengan memberikan peluang bagi masyarakat kecil menyuplai barang-barang untuk dijual di pasar modern dan tradisional yang ada di Ubud.
Di tengah pesatnya pertumbuhan pariwisata Bali, secara khusus Ubud, Nana berharap pemerintah bisa mengeluarkan rangkaian kebijakan yang lebih mendukung pengembangan sektor mikro. Dengan rangkaian kebijakan yang tepat di sektor mikro, kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi di Ubud dapat dikikis secara perlahan-lahan. Keberpihakkan terhadap perekonomian masyarakat kecil menjadi sesuatu yang vital tatkala gelombang kekuatan pemodal besar turun bermain memperebutkan kue keuntungan dari bisnis pariwisata. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat yang dicita-citakan dalam pembukaan UUD 45 dapat segera tercapai.
Kepada Generasi Muda Bali, Nana yang hobi bermain bola dan mengidolakan figur Maradona ini mendorong agar mereka aktif dalam berorganisasi. “Jangan menyerah, jangan pernah berhenti mencoba, apapun itu pasti akan ada jalan” kata Nana. Melalui organisasi, mental dan relasi bisa dibentuk, motivasi dasar yang harus ditanamkan adalah pengembangan diri, sehingga kaum muda Bali terus meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu. Di samping itu, membangun komunitas dan saling menguatkan dapat membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan arus perubahan zaman di era globalisasi ini. Harapannya ke depan kaum muda juga menyadari bila jati diri kebudayaan Bali yang saat ini mereka hidupi dapat melanggengkan daya tarik pariwisata di Bali.

Be first to comment