Konsep Three In One Kampung Sehat, Adopsi Nilai Kearifan Lokal Bali

Menjalani pola hidup sehat dari hobi berolahraga, merupakan prinsip hidup yang dilakoni I Ketut Arjana. Pria yang berkarir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di BPN ini menyalurkan hobi olahraga bulu tangkis ke tahap lebih serius. Ia pun membuka sebuah pusat pelatihan bulu tangkis dan pusat kebugaran di Ubud yang dilengkapi fasilitas lengkap. Gedung bernama Kampung Sehat tersebut juga menyediakan Klinik Akupunktur & Bekam serta tempat menyantap kuliner khas Bali. Sehingga dalam satu tempat dapat memenuhi tiga kebutuhan sekaligus atau konsep 3 in 1.

I Ketut Arjana meyakini bahwa angka tiga sendiri mengandung makna filosofis sebagai angka keberuntungan. Dalam berbagai konsep kearifan lokal Bali, angka tiga atau tri kerap disebut-sebut. Misalnya saja dalam konsep Tri Kaya Parisudha yang menjadi salah satu nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan Ketut Arjana. Konsep ini mengajarkan umat untuk senantiasa berpikir, berkata, dan berperilaku sesuai ajaran kebenaran atau Dharma.

Selain itu dalam mendirikan Gedung Kampung Sehat yang berlokasi di Jl. Raya Singakerta, Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Ketut Arjana juga mengadopsi nilai kearifan lokal lainnya yaitu Tri Hita Karana. Terdiri dari Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan, yaitu sebuah konsep yang menuntun seseorang menjaga hubungan baik terhadap Entitas Pencipta Alam Semesta, hubungan baik dengan sesama manusia, dan hubungan baik dengan lingkungan hidup termasuk hewan dan tetumbuhan.

Ajeg Bali

Memasuki kawasan Gedung Kampung Sehat, langsung terasa suasana alam yang menyejukkan lantaran lokasinya yang bersebelahan dengan alam terbuka. Bagi pengunjung yang ingin menikmati fasilitas olahrga, khususnya menjajal kemampuan bermain bulu tangkis dapat mendatangi lantai dua gedung ini. Sedangkan bagi yang ingin menikmati relaksasi lewat pengobatan akupuntur dapat menyambangi klinik yang tersedia di sana.

Khusus bagi pecinta kuliner khas Bali, dapat menikmati panganan ala Babi Guling Ajeg Bali Asri yang tersedia di lantai dasar gedung. Tempat makan ini menyediakan aneka olahan dari daging babi yang diproses dengan cara diguling. Kelebihan dari Babi Guling Ajeg Asri dengan konsep organik menggunakan bumbu-bumbu tradisional (base genep) tanpa bumbu penyedap instan dan dibakar menggunakan kayu kopi dan serabut kelapa. Tidak hanya digemari warga lokal, Babi Guling Ajeg Bali juga menjadi favorit para turis asing yang sedang berplesiran di kawasan wisata Ubud.

Wisatawan yang datang dalam bentuk grup dapat menikmati aneka menu yang disediakan dengan cara penyajian ala buffet atau prasmanan. Selain itu tempat makan ini juga membuka layanan katering dan nasi kotak untuk keperluan acara adat atau pertemuan penting.

Ketut Arjana mengatakan bahwa panganan Babi Guling yang awalnya hanya ditemui pada seremoni keagamaan saja kini telah menjadi ikon kuliner di Bali. Sehingga ia pun ingin agar makanan tersebut lebih dikenal lagi tidak hanya di tingkat lokal, melainkan menembus nasional bahkan internasional. Itulah alasannya menggunakan istilah Ajeg Bali sebagai nama tempat makannya karena memiliki visi mengajegkan atau melestarikan budaya lewat kuliner khas Pulau Dewata.

Selain itu, ada alasan unik mengapa ia memilih menyediakan menu Nasi Babi Guling di tempatnya. Ayah tiga anak ini menceritakan pengalamannya sewaktu duduk di bangku SMP dulu. Dirinya yang sudah terbiasa mengumpulkan pundi-pundi rupiah sejak kecil itu pernah melewati masa-masa mengharukan. Di mana ia dan temannya sama-sama menyantap makan siang. Namun yang membedakan adalah isian bekal makanan mereka.

“Teman saya menyantap nasi bungkus dengan nasi putih dan lauk babi guling. Sedangkan saya hanya bisa menelan ludah melihat apa yang ia makan, sembari memakan bekal milik saya yaitu nasi hitam dengan lauk ikan teri,” ujar Ketut Arjana mengenang masa lalunya.

Belajar dari Pengalaman

Selain pengalaman tersebut, bisa dikatakan banyak pengalaman hidup yang dilalui Ketut Arjana baik pahit getir maupun manisnya kehidupan. Semua itu dijalaninya dengan rasa sabar dan pemikiran bahwa setiap tantangan kehidupan adalah sebuah proses menuju kedewasaan. Pria yang merupakan putra dari pasangan petani ini memiliki semangat motivasi kuat sejak dini untuk mengubah kehidupan. Terbukti pada saat usia empat tahun ia sudah mampu membantu orangtuanya menggembala hewan ternak.

Masuk ke jenjang pendidikan SD, ia sudah pandai bekerja membuat ukiran. Namun di satu sisi ia tidak meninggalkan kewajibannya sebagai siswa, bahkan selalu menunjukkan prestasinya di sekolah. Setamat dari SMP Kerta Wisata, ia merantau ke Denpasar untuk melanjutkan SMA tanpa bekal sepeser pun. Sesampai di Denpasar ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman BangBang Gde Rawi, pencetus kalender Bali yang dipergunakan saat ini. Sembari menyelesaikan masa sekolah ia membantu segala kebutuhan di rumah iu, sebagai imbalannya ia dapat tinggal, makan, serta mendapat bantuan biaya pendidikan tambahan.

Oleh putra Bangbang Gde Rawi, Ketut Arjana diberikan kesempatan bekerja di Kantor BPN sebagai pegawai kebersihan. Pada tahun yang sama yaitu 1983, Ketut Arjana melanjutkan ke perguruan tinggi Mahasaraswati dan menamatkan kuliah di tahun 1988. Tepat di tahun itu pula ia menikahi wanita pujaan hati dan dua tahun kemudian Arjana diangkat menjadi PNS.

Masa-masa sulit di awal membangun rumah tangga sempat dilalui Arjana bersama Sang Istri lantaran istrinya bertugas di Kota Mataram. Di sanalah lahir putra pertama mereka yaitu I Gede Ari Mataram. Sedangkan Arjana ditugaskan di Singaraja yang kemudian menjadi kota kelahiran bagi anak kedua mereka. Sedangkan anak ketiga lahir di Kota Denpasar. Perjalanan dari kelahiran anak pertama hingga ketiga pun, Arjana mengakui belum memiliki tempat tinggal yang tetap. Bahkan ia pernah diusir dari tempat kos karena tidak mampu membayar biaya sewa.

Pengalaman itulah yang menjadi cambuk pelecut semangat bagi Arjana untuk semangat bekerja demi membahagiakan keluarga tercinta. Hasil bekerja selama bertahun-tahun ia kumpulkan hingga cukup untuk membangun rumah yang diidam-idamkan sejak lama. Juga dari tabungannya ia dapat mendirikan Gedung Kampung Sehat yang akan menjadi bekal untuk diwariskan pada generasi penerusnya.

Demikian kisah inspiratif dari seorang insan manusia yang berjuang dari zero to hero. Sekelumit pengalaman hidup I Ketut Arjana yang dipaparkan di atasa tentunya dapat menjadi pembelajaran hidup bagi siapa saja, termasuk generasi muda Bali saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!