Jiwa Entrepreneur dari Sang Dokter – Dr. Handy Suhendra

Tidak sedikit pebisnis yang telah membuktikan bahwa definisi wirausaha atau entrepreneur tidak berhenti pada orang yang memiliki kegiatan usaha atau tempat usaha. Wirausaha sejatinya jiwa yang dimiliki oleh individu yang jeli melihat peluang dan memanfaatkannya sehingga dapat membantu kehidupan orang banyak. Semangat berwirausaha bisa datang dari kalangan siapa saja, dengan latar belakang pendidikan yang beragam. Termasuk juga dari kalangan tenaga medis. Seperti yang dilakoni dr. Handy Suhendra, seorang dokter sekaligus wirausahawan sukses di bidang jasa pijat relaksasi.

Tidak pernah terlintas di benak Handy sebelumnya bahwa ia akan menjadi enterpreneur yang berhasil menjalankan usaha. Ia sebelumnya adalah seorang dokter yang telah mengabdikan dirinya untuk mengobati para pasien. Sebelumnya ia telah nyaman bekerja selama 10 tahun di sebuah rumah sakit di Semarang. Namun pertemuan dengan seorang teman pada suatu ketika membuka cakrawala pemikirannya tentang kesempatan membantu orang lain dengan cara yang berbeda.

Berawal dari kebiasaannya menggunakan jasa pijat tatkala merasa lelah seusai beraktivitas, Handy pun berpikir untuk membuka usaha milik sendiri. Selain untuk mempermudah dirinya untuk mendapatkan kebugaran tubuh, ia juga dapat membantu orang lain untuk mengakses jasa yang ia sediakan. Apalagi sebelumnya ia sudah mendapatkan saran dari salah seorang temannya sehingga keputusannya pun sudah final.

Maka mulailah perjalanan Handy di dunia wirausaha, tepatnya di tahun 1997. Ia mendirikan tempat pijat pertamanya di Kota Semarang, kota kelahirannya. Guna membantu usahanya itu, ia megawali dengan memperkerjakan empat orang karyawan. Tak disangka usaha yang diberi nama ‘Griya Bugar’ itu segera dikenal masyarakat dan seketika diminati oleh mereka yang membutuhkan jasa pijat.

Keberhasilan usaha yang diraih oleh pria kelahiran 20 Mei 1967 itu membuatnya berani berekspansi dengan membuka beberapa cabang lainnya. Salah satunya di Bali. Pemilihan Bali sebagai tujuan ekspansi usaha tidak lain berkat saran dari temannya yang menganggap Bali merupakan daerah yang sangat potensial.

Namun nyatanya, hasil yang didapat justru di luar ekspetasinya. Handy mengaku selama dua tahun pertama ia mendirikan cabang di Bali, justru kerugian usaha yang didapatnya. Jumlah pemasukan tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Pada waktu itu bisa dikatakan peminat jasa pijat yang ditawarkannya sangat sedikit, berbanding terbalik dengan yang terjadi di Semarang yang justru semakin hari semakin ramai konsumennya.

Berkat kegigihan dan sikap pantang menyerah, Handy memutuskan untuk tetap mempertahankan cabang Griya Bugar di Bali. Nyatanya kesabarannya itu membuahkan hasil. Cabang Griya Bugar di Bali mulai ramai didatangi pengunjung di tahun ketiganya. Meski belum bisa dikatakan memberikan profit sebanyak usahanya di luar Bali, namun bagi Handy kondisi pada saat itu sudah cukup. Setidaknya usahanya itu dapat memberikan manfaat bagi para karyawannya.

Jauh dari Kesan Negatif

Griya bugar Bali beralamat di Jalan By Pass Ngurah Rai, Tuban, merupakan tempat spa dan pijat yang cocok untuk semua kalangan. Sehingga jauh dari kesan negatif yang selama ini menjadi stereotype tempat pijat. Menurut Handy, Griya bugar lebih fokus pada pelayanan profesional dengan kualitas layananan terbaik. Hal ini terlihat dari kesan staf yang ramah dan hangat, sigap membantu serta informatif. Therapist yang menangani konsumen juga yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Selain unggul dalam hal kualitas pelayanan, Griya Bugar juga diminati masyarakat lantaran tempatnya dinilai bersih dan nyaman. Sebagai seorang dokter yang telah lama bekerja di bidang hospitality rumah sakit, tentunya Handy telah merancang tempat usahanya itu agar sesuai dengan standar pelayanan jasa kesehatan.

Setelah melihat perkembangan usahanya yang cukup signifikan, terutama dengan bertambahnya jumlah cabang dan para SDM yang bekerja di bawah kepemimpinannya. Handy pun akhirnya memutuskan untuk pensiun lebih awal dari profesinya sebagai seorang dokter. Keputusannya itu tentunya cukup ditentang banyak pihak, salah satunya dari orangtuanya sendiri. Mengingat perjuangan yang begitu panjang menempuh masa pendidikan di Kedokteran, apalagi dengan kondisi keluarganya yang datang dari kalangan menengah.

“Orangtua saya dahulu berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan saya selama menempuh pendidikan di Kedokteran. Tentu merupakan suatu sikap yang wajar apabila mereka awalnya tidak setuju atas keputusan saya. Bahkan saya sendiri pun sempat mengalami keraguan apakah keputusan saya sudah benar atau tidak,” ujar Handy.

Setelah menjelaskan alasannya untuk lebih berfokus pada usaha, akhirnya orangtuanya mulai memahami keinginan putra sulung mereka itu. Begitu pun dengan kepala rumah sakit tempat Handy mengabdi selama sepuluh tahun. Bagi Handy, perjalanannya sebagai seorang dokter sebelumnya bukanlah suatu hal yang sia-sia. Menjadi seorang dokter bukanlah perjuangan yang mudah. Sehingga siapa saja yang bisa melalui proses pendidikan atau pun karir sebagai seorang dokter pastilah telah ditempa menjadi pribadi yang kuat dan tegar menghadapi situasi krisis.

Lewat usaha yang dirintisnya dari nol itu, Handy tidak hanya mendapatkan keuntungan material semata. Ia melihat manfaat yang lebih besar dari sekedar profit usaha, melainkan kebahagiaan dalam memberikan manfaat bagi orang lain. Melalui usahanya, ia telah membuka lapangan kerja untuk banyak orang. Terhitung jumlah karyawan yang dimilikinya lewat Griya Bugar di Bali dengan jumlah karyawan yang mempuni. Belum lagi karyawan yang ada di 8 cabang Griya Bugar di kota lainnya.

Selain membuka jasa pijat relaksasi, Handy mengepakkan sayap usahanya ke bidang yang lain. Seperti usaha homestay dan kuliner yang dibuka di Yogjakarta. Sekali lagi, kejelian menangkap peluang yang menjadi kemampuan natural itu membawanya pada keberhasilan. Ayah dua anak ini berharap agar semua lini usahanya itu dapat membantu lebih banyak orang lain lagi dan menjadi inspirasi bagi kalangan muda untuk memulai berwirausaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!