Jaga Kualitas Pelayanan Kunci Keberhasilan Usaha Distributor Perlengkapan Keselamatan – UD. Cakrawala

Ungkapan from zero to hero agaknya pas disematkan pada sosok pria bernama Hermanto. Pasalnya, untuk mencapai keberhasilan seperti yang diraihnya saat ini, dirinya memulai segala usaha dari nol. Keuletannya dalam berjuang untuk memperbaiki taraf hidup, mulai dari profesi pegawai minimarket, office boy dan manager toko, mengantarkannya pada pintu kesuksesan sebagai pengusaha supplier safety equipment terpercaya di Kota Denpasar.

Hermanto mengembangkan usaha di bidang penyediaan alat dan kelengkapan keamanan serta keselamatan yang diberi nama UD. Cakrawala. Berbagai item yang ditawarkan antara lain helm keselamatan, sepatu boot, sarung tangan, rompi, life jacket, dan masih banyak lagi. Tidak hanya menyediakan perlengkapan safety untuk proyek dan security, ia juga menjadi distributor untuk perlengkapan fire extinguisher, alat pelindung diri (APD), camping, dan perlengkapan tactical. Tokonya yang berlokasi di Jalan Teuku Umar Barat no. 11 Denpasar kerap dikunjungi pelanggan untuk membeli dalam kuantiti kecil maupun dalam jumlah partai.

Menurut Hermanto, APD menjadi salah satu kebutuhan yang cukup diminati akhir-akhir ini. Lantaran di masa pandemi saat ini kebutuhan terhadap APD semakin meningkat, seperti masker dan jubah APD. Sedangkan dalam masa transisi menuju era kenormalan baru seperti sekarang ini, UD. Cakrawala juga menyediakan alat pengecekan suhu.

Pria asal Lumajang, Jawa Timur ini mengatakan mulai merintis usaha sejak 2014 tahun silam. Perjalanan usaha yang tidak sebentar itu tentunya diselingi oleh berbagai tantangan demi tantangan. Namun ia membuktikan lewat ketekunan dan kejujuran, lelaki kelahiran 10 Mei 1983 ini pun mampu mempertahankan eksistensi bisnis selama enam tahun belakangan.

“Kunci keberhasilan usaha tidak lain yaitu mengutamakan kualitas layanan kepada pelanggan. Kami senantiasa menunjukkan keramahtamahan kepada pengunjung yang datang ke toko kami, meskipun pada akhirnya mereka tidak jadi membeli. Setidaknya dengan mengingat bagaimana pelayanan yang kami tunjukkan nantinya mereka akan mempertimbangkan untuk kembali dan akhirnya membeli. Begitu pula yang sudah pernah datang membeli produk kami sering datang lagi untuk memesan kembali,” kata pria yang akrab disapa Anto ini.

Merintis Karir

Sebelum terjun ke dunia usaha, Hermanto terlebih dahulu melalui perjuangan merintis karir dari bawah. Kegigihannya dalam berusaha mengubah taraf hidup merupakan dorongan dari pengalaman hidup yang terbilang getir di masa lalu. Pekerjaan apa saja sanggup dilakoninya, meski dengan hasil yang tidak seberapa.

 

Prinsip yang senantiasa dipegang teguh adalah selama pekerjaan itu halal dan tidak merugikan siapa pun, akan dikerjakan sebaik-baiknya.

Kehidupan di masa kecil Hermanto sangatlah sederhana lantaran ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan upah yang sangat minim. Sementara ibunya mencari pundi-pundi rupiah dengan berdagang yang juga penghasilannya tak seberapa. Bahkan karena ketiadaan biaya, orangtua Hermanto terpaksa angkat tangan dalam membiayai sekolahnya saat ia beranjak memasuki jenjang SMA.

Hermanto terbilang anak yang tabah seusianya walaupun dirinya tidak mampu menikmati hak-hak seperti anak lainnya. Ia tetap menghormati keputusan orangtuanya yang tidak sanggup memfasilitasi keinginannya untuk bersekolah. Pun, ketika orangtuanya mengarahkan ia untuk bekerja sebagai pegawai minimarket, ia tidak menentangnya.

“Ayah mengajak saya dan ibu menyusul beliau ke Bali. Sesampainya di sini, ayah saya mencarikan saya pekerjaan dengan menjadi penjaga di sebuah minimarket yang berlokasi di Tuban, Badung,” kenang Hermanto.

Ia mengatakan, sikap bakti yang selalu ditunjukkan merupakan buah dari pembelajaran ilmu agama yang selama ini ditekuni. Ia selalu mengingat pesan dan nasihat guru mengajinya di kampung halaman, bahwa keberkahan akan selalu datang kepada anak-anak yang selalu menghormati orangtua.

Rasa hormat yang tulus semakin dirasakan manakala ia melihat langsung bagaimana perjuangan ayahnya mencari rezeki di perantauan. Saat bekerja di minimarket ia melihat Sang Ayah dari kejauhan yang pada saat itu tengah menjajakan koran di jalan. Ia melihat tubuh ayahnya yang kian menua harus merasakan teriknya matahari. Sesekali ayahnya terduduk lemah ketika belum ada dagangannya yang laku terjual.

“Hati saya merasa pedih melihat kejadian itu. Pengalaman saat itu saya simpan sebagai sepotong memori yang akan saya ingat manakala perasaan lelah menghampiri. Saya jadikan cambuk pelecut semangat untuk bekerja lebih giat lagi,” kata Hermanto dalam suasana haru.

Menginjak usia 17 tahun, Hermanto mendapat tawaran bekerja pada salah satu kenalan ayahnya. Pada saat melamar kerja, bukannya mengenakan setelan formal, ia justru hadir dengan kemeja lengkap dengan sarung dan peci. Namun bukan penampilan itu serta merta membuatnya diterima bekerja, melainkan semangatnya yang terpancar membuat calon atasannya tertarik mempekerjakannya.

 

Hermanto mengatakan awalnya ia hanya diposisikan pada pekerjaan selaku office boy. Ia bertugas membersihkan toko milik bosnya juga terkadang mencuci kendaraan. Semua pekerjaan itu tidak membuat Hermanto merasa rendah diri. Ia sadar sebagai lulusan setingkat SMP, tidak banyak pilihan pekerjaan yang dapat diraihnya. Namun ia tetap semangat melakoni setiap perannya dengan keyakinan bahwa hal itu adalah pengalaman hidup yang harus dilalui.

Betul saja, ketekunannya dalam bekerja menarik perhatian bosnya. Ia pun mulai mendapat tugas-tugas yang berhubungan operasional toko milik bosnya itu. Dalam kurun waktu 8 tahun, ia pun akhirnya dipercaya menduduki peran sebagai manajer toko. Penghasilan yang ia dapat selama bekerja ia sisihkan untuk memodali usaha rumah makan yang dikelola oleh orangtuanya.

Berwirausaha

Di usia yang cukup matang, yakni sekitar 27 tahun, Hermanto belum menemukan tambatan hati yang dirasa cocok untuk melengkapi kehidupannya. Ia ingin mencari pasangan yang memiliki visi yang sama dengannya salah satunya dalam hal keyakinan. Semua karakter yang ia anggap ideal dalam pasangan hidup ia temukan pada perempuan pujaan hati bernama Yuni Elistiawati. Wanita cantik yang dipertemukan dengannya pada saat Hermanto menjadi pasien di klinik estetika kulit di Denpasar.

Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Setelah menikah, Hermanto berkeinginan untuk bisa mandiri dalam berusaha. Ia yakin tidak bisa terus menerus berada di zona nyaman sebagai karyawan. Dirinya ingin meraih kesempatan yang lebih besar lewat jalan berwirausaha, meskipun ia tahu risiko yang besar juga menanti di depan mata.

Pada tahun 2014 ia memberanikan diri membuka toko dengan jumlah barang yang masih sangat sedikit. Berbekal pengalaman sebagai karyawan di toko penjualan alat safety, ia pun menjajakan produk sejenis. Dengan demikian ia pun sudah memahami seluk beluk operasional usaha. Soal kegiatan marketing dan melayani pembeli, ia lakukan seorang diri hingga akhirnya ia dibantu oleh satu orang karyawan.

Lambat laun usahanya mulai berkembang. Variasi produk yang dijual semakin banyak sehingga pembeli dapat menemukan berbagai keperluan di satu toko. Saat ini Hermanto mulai berinovasi dengan memanfaatkan teknologi digital dalam hal pemasaran. Ia menggunakan aplikasi sosial media sebagai media promosi usahanya. Sehingga ia pun dapat menjangkau sasaran pasar yang lebih luas lagi.

Kepada generasi muda yang tengah berjuang saat ini, Hermanto berpesan untuk selalu mengutamakan kejujuran pada saat melakoni pekerjaan apapun. Menurutnya, sikap kejujuran merupakan modal awal membangun kepercayaan dan relasi baik dengan yang lainnya. Relasi itulah nantinya yang akan mengantarkan seseorang pada oportunity lain yang mungkin saja menjadi langkah awal menuju kesuksesan.

Lewat kisah pengalaman hidup Hermanto yang inspiratif tersebut, kita juga dapat belajar bahwa kesuksesan hidup adalah keniscayaan bagi mereka yang mampu mendapat restu dari orangtua. Seperti apapun latar belakang orangtua, hendaknya mereka selalu menjadi sosok yang dihormati. Di kala keberhasilan mampu kita raih, jangan lupa untuk membahagiakan orangtua meskipun kita tidak akan mampu membalas tuntas budi baik mereka sampai kapanpun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!