IKAN TUNA BALI DIAKUI DUNIA

Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas serta sumber daya bahari yang melimpah sehingga dikenal sebagai suatu negara maritim. Salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam kelautan yang menjanjikan adalah Provinsi Bali. Potensi inilah yang berusaha dikelola oleh pengusaha perempuan bernama Anny melalui perusahaan PT. Industri Perikanan Terpadu Chiu Shih.

Sebagai seorang pelaku bisnis di sektor perikanan, Anny mengakui bahwa Bali sebetulnya memiliki potensi besar di industri perikanan dan kelautan. Hal ini ia buktikan selama melakoni bisnis perikanan yang berfokus pada spesifikasi produk ikan tuna segar. Ikan jenis tersebut banyak ditemukan di perairan sekitar wilayah Bali.

“Ikan Tuna dari Bali sangat diminati, terutama di Jepang,” ujar Anny. Ia menjelaskan bahwa Jepang menjadi salah satu pasar ekspor yang ia tuju selama ini. Lantaran masyarakat Negeri Sakura itu terkenal sebagai pengkonsumsi makanan laut.

Menurut Anny, ikan tuna bisa didapat dari daerah lainnya di Indonesia. Namun ikan tuna segar hasil tangkapan di Bali yang paling diminati. Karena kualitas ikan tuna Bali sudah diakui di mata internasional.

 

 

 

 

 

Tantangan

Meskipun industri perikanan cukup menjanjikan karena bahan bakunya cukup melimpah. Namun nyatanya berbagai macam tantangan yang ada membuat pelaku bisnis di industri ini kerap kewalahan. Anny memaparkan bahwa salah satu kendala yang sering ditemui di lapangan adalah faktor perizinan.

 

Selain sistem birokrasi yang rumit, proses penerbitan izin dinilai sangat lama. Bahkan menurut Anny, pengusaha di industri ini bisa menghabiskan waktu menunggu sebuah perizinan hingga bertahun-tahun lamanya. Sementara dalam proses menunggu izin, biaya operasional tetap berjalan terutama beban gaji untuk para SDM.

Ada pula tantangan lainnya yang sempat dialami Anny dan rekan-rekannya yang merupakan pengusaha bidang serupa di Bali. Yaitu peristiwa kebakaran kapal di pelabuhan Benoa beberapa waktu lalu. Peristiwa ini telah menghanguskan puluhan kapal dan menyebabkan kerugian ratusan miliar rupiah. Menurut Anny, kejadian seperti ini kerap terjadi namun peristiwa yang lalu adalah yang paling merugikan.

“Melihat dari pengalaman tersebut, setiap perusahaan yang memiliki kapal dan dermaga diharapkan memiliki sistem pemadam kebakaran yang akan tanggap bila menghadapi kejadian serupa nantinya,” kata perempuan asal Medan tersebut.

Selain masalah perizinan dan musibah tak terduga, Anny juga menyoroti soal meningkatnya ekspor ikan tuna yang masih kecil beberapa tahun belakangan. Ia melihat adanya tren penangkapan ikan tuna berukuran kecil ini terjadi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. Padahal kondisi ini ditakutkan akan membuat regenerasi ikan tuna melambat dan berpotensi mengurangi populasi ikan tersebut.

Bisnis Kuliner

Berbagai kendala yang dihadapi Anny, nyatanya tidak membuat semangat ibu dari empat buah hatinya ini lantas surut. Saat ini tengah melirik bisnis lainnya yang masih berelasi dengan industri perikanan. Bisnis yang digelutinya tidak lain di bidang kuliner. Ia menceritakan bahwa saat ini ia telah mengelola dua buah restoran. “Bahan baku restoran merupakan hasil tangkapan sendiri,” kata Anny.

Menurutnya hasil tangkapan berkualitas selama ini diekspor ke luar negeri. Namun sudah saatnya masyarakat Bali sendiri mesti menikmati kualitas ikan dari alam bahari milik sendiri. Karena dengan cara itu, masyarakat akan bangga dengan sumber daya alamnya dan semakin peduli dengan keberlangsungan lingkungan laut mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!