Hasrat Sosial dari “Emas Tersembunyi” Pengusaha Asal Desa Sakti, Nusa Penida

Hidup Nengah Setar, layaknya seperti proses pembuatan emas murni yang rumit. Harus melalui proses yang panjang, mulai sejak awal ditemukan di tambang, yang masih tercampur dengan logam lain dan kadarnya belum murni. Hingga proses pembentukan emas tersebut berhasil dilakukan dan menjadi salah satu logam paling berharga di dunia dan siapapun tak akan kuasa untuk menolaknya.

Sulit dibayangkan di usia delapan tahun, Nengah Setar sudah melakukan transmigrasi, bukan bersama orangtua, melainkan hanya bersama kakaknya menuju Kalimantan. Tentu daerah tersebut, menjadi daerah yang asing baginya, namun apa boleh buat, pada masa itu orangtua yang tinggal di Nusa Penida, memilih cara tersebut untuk mendidik anak laki-laki mereka untuk menjadi seseorang yang mandiri.

Mencari nafkah di daerah asing, terlebih di usia yang sangat muda, Nengah Setar dan kakaknya harus menikmati santapan sehari-harinya dengan sayur paku tanpa bumbu penyedap sedikit pun, tentu rasanya terasa hambar. Namun mereka tak sempat untuk memikirkan hal tersebut, yang terpenting saat itu adalah perut mereka telah terisi.

Selama di Kalimantan, akhirnya dua anak laki-laki tersebut sempat bekerja dengan orang asal Madura. Tujuan mereka bekerja, tak ada yang lain, selain agar dapat pulang ke Nusa Penida. Sampai di Nusa, Nengah Setar kembali bekerja, mulai dari buruh, bertani, hingga belajar beternak. Oleh ayahnya, ia diberi uang 30 rupiah, untuk mencari ayam sebanyak 25 ekor. Setelah mendapatkan keuntungan, ia kembali membawa pulang ayam dua kali lipat, sebanyak 50 ekor. Bocah laki-laki tersebut kemudian menuju Kusamba, Klungkung membawa ayam-ayam tersebut, namun tidak laku-laku, sampai-sampai kepalanya penuh dengan kotoran ayam.

Karena rugi, ia pun memutuskan untuk pulang, dan mengganti uang tersebut, atas permintaan orangtua. Di Toya Pakeh, Nusa Penida terdapat pasar hewan, yang menjadi tujuan ia selanjutnya. Setelah mendapat izin dari orangtua, ia kemudian menuju pasar tersebut, untuk membeli sapi (godel). Beruntung, ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki kemurahan hati. Dengan menunda pembayaran, oleh Pak Sirah, Pak Karti dan Pak Siwi, ia akhirnya dapat berjualan sapi, dari pekerjaan tersebutlah, ia mulai dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri hingga di usia 15 tahun.

Di usia 17 tahun, Nengah Setar kemudian menikah dengan almarhum istri pertama, dengan tetap berlanjut berjualan sapi, dengan perkembangan yang semakin luas ke daerah Sanur pada tahun 1970. Berangkat pada pk 07.00, kemudian sampai pada pk. 08.00 dengan menggunakan sarana perahu yang masih sangat tradisional, menggunakan tenaga gayung dan layar, yang mampu memuat sapi sebanyak 20-50 sapi. Tak hanya di Bali, sapi-sapi yang dipotong di Banyuwangi pun juga didistribusikan ke Jakarta.

Penghasilan yang semakin tinggi, pada tahun 1995, Nengah Setar ditawarkan untuk berinvestasi dengan membeli tanah di Nusa Penida, mumpung pada saat itu masih murah, yakni 1 juta/ ha. Dibelilah tanah tersebut seluas 2 ha hingga 3 ha. Ia kemudian bertemu dengan Pak Kusuma, kembali menambah investasi tanahnya seluas 3.5 juta. Hingga sampai saat ini, ia telah memiliki tanah seluas 200 ha, namun tidak menjadi miliknya secara utuh, ia lebih memilih menyumbangkan sebagian tanah terutama dalam pembangunan pura-pura.

Uang hasil penjualan tanah disumbangkan Nengah Setar, mulai dari tanah seluas 1ha 17are di Pura Penataran, Nusa Penida. Kemudian berlanjut di Pura Gunung Rinjani, Lombok hingga melakukan bedah rumah di kabupaten Karangasem, Tabanan dan Buleleng dan ikut berkurban pada saat hari raya Idul Adha. Ia mengungkapkan, setidaknya setiap ia melakukan persembahyangan di pura-pura, ia akan memberikan dana punia minimal 1 juta rupiah baik di Bali, maupun luar Bali. Untuk di Bali sendiri, diperkirakan sudah mencapai ratusan juta rupiah, sudah ia sumbangkan.

Selain ikut berkontribusi pembenahan pura-pura, Nengah Setar juga membangun usaha demi membangun pariwisata Nusa Dua, yang beralamat kantor di Jalan Gandapura III No. 33 Denpasar Timur. Jadwal keberangkatan pertama meliputi daerah Sanur (Mertasari) menuju destinasi Nusa Penida pk. 08.30, keberangkatan kedua, Nusa Penida menuju Sanur (Mertasari) Nusa Penida pk.05.00. Adapun kelebihan dari Semabu Fast Boat meliputi keamanan & kenyamanan berkecepatan tinggi, kapal cepat semabu memiliki operator pilihan untuk agen perjalanan internasional yang berkapasitas 110 kapasitas penumpang, menyediakan paket tur khusus dengan tamasya dan matahari terbenam yang indah, layanan penjemputan di daerah Kuta, Seminyak, Nusa Dua, Sanur, Ubud, Uluwatu, Balangan, Canggu.

Fastboat mesin terbaik 5 Yamaha 250PK, 3 Unit Life Rafts , dan tiga sekoci membuat perjalanan Anda lebih aman dan lebih menyenangkan, 120 + 5 Life jaket + asuransi, kapasitas maksimal 120 penumpang dengan lifejacket dan asuransi membuat perjalanan Anda aman dan sistem pemesanan online.

Kini di usia menginjak usia 67 tahun, Nengah Setar memilih untuk menyerahkan dan mempercayakan bisnisnya kepada anak-anaknya, sedangkan ia memanfaatkan waktunya di usia senja untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan cara memenuhi hasrat sosialnya. Merancang sebuah catatan luar biasa untuk seorang manusia sepertinya, yang mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan secara batin dengan melihat orang-orang sekitarnya turut berbahagia. Ia pun berharap memberi manfaat untuk orang-orang sekitar, dengan saling berbagi antar sesama dapat terus berlanjut ke orang-orang selanjutnya, tidak hanya berhenti di tangannya saja. Terutama untuk orang-orang yang memiliki kewenangan lebih besar dalam posisinya untuk memperbaiki fasilitas umum masyarakat. Bukan untuk siapa, tapi hal ini demi kepentingan dan kesejahteraan pariwisata Nusa Penida, sekaligus demi keberlangsungan pariwisata Bali kedepannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!