Harmonisasi Arsitektur Masa Kini dengan Sentuhan Gaya Bali – ASW architect

Seiring dengan perkembangan industri pariwisata di Bali, kebutuhan terhadap properti kian meningkat. Banyaknya properti baru yang bermunculan mengadopsi gaya arsitektur yang tengah tren saat ini seperti konsep modern, minimalis, maupun industrialis. Sebagai arsitek putra daerah Bali, Anak Agung Ngurah Agung Satria Wibawa, ST memiliki idealisme yang dituangkan dalam karya-karyanya. Yaitu memberikan sentuhan gaya arsitektur Bali untuk kesan estetika bangunan namun tetap fleksibel mengikuti tren masa kini. Tidak hanya menciptakan harmonisasi dua atau lebih gaya arsitektur ia pun tidak mengesampingkan fungsi utama dari bangunan itu sendiri. Melalui pemikiran tersebut, pendiri ASW architect ini kerap dipercaya oleh para klien dari kalangan yang memang menyukai sentuhan etnik baik untuk rumah tinggal, akomodasi maupun tempat usaha.

Keunikan seni dan budaya Bali menjadi magnet penarik bagi wisatawan seluruh dunia untuk mengunjungi pulau ini. Berbicara mengenai seni, tidak hanya terbatas pada seni tari, musik, atau seni rupa. Warisan gaya arsitektur khas Pulau Dewata juga memiliki nilai estetika tersendiri. Konsep arsitektur ala Bali memiliki beberapa pakem yang merupakan cerminan dari nilai kearifan lokal. Pakem-pakem inilah yang menjadi ciri khas pada bangunan Bali yang tidak ditemui pada gaya arsitektur di daerah lain.

Anak Agung Ngurah Agung Satria Wibawa menjadi salah satu arsitek lokal yang masih berupaya mempertahankan nafas arsitektur Bali dalam setiap karyanya. Menurutnya membuat desain bangunan dengan nuansa kearifan lokal tidak serta merta akan membuat kesan ketinggalan zaman. Menunjukkan bahwa gaya arsitektur Bali juga bisa dikolaborasikan dengan gaya arsitektur yang digandrungi saat ini menjadi tantangan yang ia coba hadapi. Ia pun berhasil mengeksekusi tantangan tersebut dengan menghadirkan karya-karya yang eksotis dan tentunya sesuai dengan permintaan para klien.

Beberapa ciri khas arsitektur Bali yang ia coba adopsi antara lain pembuatan atap bangunan berbentuk limas yang menyerupai bangunan bale. Namun ada pula atap yang menyerupai bentuk bangunan lumbung tempat menyimpan suplai pangan oleh masyarakat tempo dulu. Ciri khas lainnya yaitu pintu masuk berukuran kecil, penggunaan material dari batu-batuan alam, unsur kayu dan rotan pada beberapa elemen seperti pintu dan jendela, serta penataan sirkulasi udara yang telah diperhitungkan sedemikian rupa.

Agung Satria menjelaskan, bahwa ia tidak hanya sekedar mendesain suatu bangunan dengan menonjolkan keindahan semata. Ia pun tetap mengutamakan fungsi bangunan, misalnya saja bangunan tempat tinggal tentunya harus dibuat agar nyaman untuk dihuni. Unsur pencahayaan dan ventilasi udara menjadi dua hal yang harus diperhatikan. Begitu juga dengan bangunan komersil seperti akomodasi, restoran, maupun toko dibuat dengan memperhatikan faktor kenyamanan pengunjung.

Tidak bekerja sendiri, Agung Satria didukung oleh tim yang terdiri dari para profesional dengan pengalaman jam terbang tinggi dalam menangani proyek pembangunan rumah, hotel, villa, maupun restoran. Beberapa proyek pengerjaan desain bangunan yang telah dikerjakan tersebar di beberapa daerah wisata di Bali. Sebut saja Berawa, Canggu, dan Jimbaran.

Klien yang membutuhkan jasa desain, konsultasi pembuatan properti hingga pengerjaan konstruksi di lapangan dapat mepercayakan ASW architect yang beralamat kantor di Jalan Suradipa, Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar.

Jiwa Entrepreneur

Meskipun saat ini dikenal sebagai wirausahawan di bidang jasa desain arsitektur, Agung Satria sejatinya tidak datang dari keluarga pebisnis. Orangtuanya berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil sehingga selalu mengarahkannya untuk bisa menempuh jalur karir serupa di masa depan. Namun jiwa entrepreneurnya kian terasah seiring pengalaman dalam hidup yang menuntun dirinya harus kreatif memanfaatkan peluang yang ada.

Agung Satria menuturkan bahwa orangtuanya mendidik dirinya dan adik-adiknya untuk bergaya hidup sederhana. Uang bekal yang ia terima dicukup-cukupkan untuk membeli keperluan yang ia butuhkan saja. Ternyata melalui gaya didikan semacam itu justru mendorong Agung Satria menjadi pribadi yang kreatif dalam mencari cara untuk memenuhi keinginannya yang tidak mampu terbeli dari uang bekalnya.

Kemudian muncul ide untuk berwirausaha yaitu berdagang mulai dari SD hingga SMA dari skala kecil hingga besar, dengan bermodalkan sumber daya yang ada cukup untuk memuaskan hasrat berbisnis dikala itu. Ia tidak merasa malu dan sungkan menawarkan barang dagangannya kepada teman-teman, justru terbit rasa bangga karena telah mampu menghasilkan uang dari jerih payah sendiri.

“Uang hasil penjualan tidak saya nikmati sendiri melainkan saya gunakan untuk mentraktir teman-teman, termasuk mereka yang membeli dagangan saya,” kenang pria yang berprinsip hidup harus saling berbagi tersebut.

Selesai menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Denpasar, Agung Satria melanjutkan pendidikan ke Jurusan Arsitek, Fakultas Teknik, Universitas Udayana. Kecintaannya pada dunia arsitektur dimulai sejak SD yaitu ketika ia sering melihat-lihat isi majalah yang berisikan gambar bangunan, interior, maupun landscape. Mulai saat itu ia getol melatih kemampuan menggambar hingga berhasil lulus tes kompetensi ujian masuk jurusan arsitektur.

Keseriusannya dalam menekuni dunia arsitek pun memotivasinya untuk lulus lebih cepat dengan nilai yang memuaskan. Setelah berhasil menyandang gelar sarjana, ia pun langsung terjun ke dunia kerja. Meskipun berbekal ijazah perguruan tinggi, tidak serta merta membuatnya langsung mendapat posisi pekerjaan yang bagus. Awal karirnya ia harus legowo menerima upah di bawah standar. Namun hal itu justru membuatnya lebih semangat mencari penghasilan tambahan yang masih terkait dengan kompetensinya saat itu.

“Saya memiliki beberapa target dalam hidup yang semuanya saya tulis dalam sebuah buku catatan. Hal itu saya lakukan sebagai penerapan teori dari buku yang saya baca berjudul The Secret. Dalam buku itu dijelaskan bahwa pikiran kita merupakan magnet yang dapat menarik segala kemungkinan yang kita bayangkan. Saat itu saya menuliskan berapa penghasilan yang ingin saya raih dan impian untuk bisa mengunjungi Antartika,” ujarnya.

Menurutnya, target yang dibuat tentu harus dibarengi strategi untuk bisa mewujudkannya. Lewat usaha kerja kerasnya, Agung Satria pun akhirnya mampu mewujudkan sebagian besar daftar impiannya dalam kurun waktu dua tahun. Termasuk pula keinginan untuk bisa berdikari mendirikan usaha sendiri.

Agung Satria menambahkan bahwa dalam setiap perjuangan meraih asa, hendaknya membekali diri dengan berbagai macam strategi. Sehingga pada saat menemui rintangan di tengah jalan, tidak lantas menyerah begitu saja. Melainkan terus berusaha menggunakan cara-cara lainnya untuk meraih tujuan yang sama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!