Harga Minyak Dunia Turun

Anjungan PAPA, Flowstation Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di lepas pantai Karawang, Jabar, Senin (28/7). Menurut data SKK Migas semester I tahun 2014 realisasi produksi minyak nasional sebesar 796,5 MBOPD dan gas 6,897 MMSCFD sehingga pemerintah terus berupaya menahan laju produksi antara lain melalui pengembanagn lapangan yang sudah ada dan mencegah terjadinya gangguan kegiatan produksi akibat kerusakan fasilitas. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt/14

New York – Setelah melonjak tiga hari berturut-turut hingga mencapai tingkat tertinggi 11-bulan, harga minyak dunia turun pada Kamis (9/6), saat para investor membukukan keuntungan.

“Meski ada potensi penurunan kecil berkembang menjadi penurunan lebih signifikan, sejauh ini terlihat seperti koreksi teknikal moderat menyusul tiga hari keuntungan daripada pembalikan besar,” kata Tim Evans dari Citi Futures.

Acuan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Juli turun 67 sen menjadi berakhir di 50,56 dolar AS per barel sehari setelah ditutup pada level tertinggi sejak Juli 2015.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent North Sea, untuk pengiriman Agustus turun 56 sen menjadi menetap di 51,95 dolar AS per barel di perdagangan London.

“Sedikit aksi ambil untung terjadi, tapi masih ada banyak kekuatan di pasar,” kata Carl Larry dari Frost & Sullivan seperti dikutip kantor berita AFP.

Larry memperkirakan harga minyak bisa mencapai 55 dolar AS minggu depan. “Permintaan kuat,” kata dia, sementara pasokan mulai terlihat sedikit melemah.

“Kami mulai melihat animo sedikit lebih meningkat.”

Harga minyak telah meningkat hampir dua kali lipat sejak menyentuh level terendah sejak 2003 pada Februari, terbantu penurunan produksi Amerika Serikat dan pemangkasan produksi di Nigeria karena kerusuhan pemberontak, dan di Kanada akibat kebakaran hutan di kawasan penghasil minyak Alberta.

“Momentum yang ada, sentimen pasar, tidak adanya berita bearish dan pengurangan pasokan yang masih cukup besar menunjukkan bahwa kenaikan harga akan terus berlanjut,” kata analis Commerzbank dalam sebuah catatan penelitian.

Mereka mencatat bahwa investor mengabaikan kenaikan produksi minyak mentah Amerika serikat sebesar 10.000 barel per hari pekan lalu, yang merupakan kenaikan pertama dalam 13 minggu terakhir.

ant

Be first to comment