GENERASI PEMBAHARU DI BALI ZOO

DSC_2501

Dalam bisnis, terdapat banyak tantangan yang menanti para pegiat bisnis. Mendirikan sebuah usaha yang mampu bertumbuh kemudian mempertahankan eksistensi dengan segala rupa kebijakan, bukanlah satu-satunya tugas yang mesti ditaklukkan. Pada akhirnya, tantangan terbesar suatu bisnis ada pada momen dimana bisnis tersebut hendak dialihkan. Biasanya, sang penerus merupakan anggota keluarga dan yang paling umum adalah generasi Sang Pendiri usaha. Dilematika yang kerap dihadapi, apakah Sang Penerus mampu melanjutkan kesuksesan orangtuanya? Anak Agung Trisna Dewi Rahanian, putri pendiri bisnis pariwisata berbendera “Bali Zoo”, menjawab tantangan sebagai generasi penerus yang sanggup menggapai kesuksesan.

Rahasia kesuksesan sejumlah bisnis keluarga yang berumur panjang tidak lain karena adanya kesiapan yang matang dalam proses regenerasi usaha. Beberapa pendiri bisnis berskala besar dengan mantap mempersiapkan para penerus mereka agar memiliki kapabilitas dalam meneruskan usaha yang telah diwariskan. Namun ada pula orangtua yang secara demokratis menyerahkan keputusan pada penerus mereka : entah mau melanjutkan usaha keluarga atau tidak.

Bagi A. A. Trisna Dewi Rahanian atau yang akrab disapa Gung Gek Trisna ini, tidak ada keterpaksaan dalam mengemban tugasnya sebagai generasi kedua bisnis kebun binatang Bali Zoo. Justru, kecintaannya pada hewan telah menuntunnya pada kenyamanan dalam pekerjaannya saat ini. Ia dan kakak sulungnya dengan kompak menerima tongkat estafet untuk meneruskan bisnis yang telah bertumbuh besar.

“Sejak kecil saya menyukai dunia hewan. Ayah saya, Anak Agung Gede Putra, dulu memelihara beragam jenis satwa di belakang pekarangan rumah kami,” ujar dara kelahiran Gianyar, 24 Oktober 1986 ini. Rasa saya pada hewan bukan semata-mata ditunjukkannya pada hewan-hewan yang ditangkarkan di kebun binatang Bali Zoo. Gung Gek Trisna mengaku di tempat tinggalnya pun ia membesarkan hewan berupa anjing kesayangannya.

“Anjing peliharaan saya bahkan memiliki suster tersendiri,” ujar Gung Gek Trisna bersemangat.

Sebagai Eksekutif Manajer di Bali Zoo, Gung Gek Trisna menceritakan bahwa ia dan kakak sulungnya, Anak Agung Lesmana Putra, yang menduduki jabatan sebagai General Manager, telah melakukan bermacam metode untuk melakukan ekspansi usaha. Salah satunya adalah melakukan perluasan area kebun binatang.

Jika sebelumnya pada masa pengelolaan oleh orangtuanya cakupan luasan Bali Zoo hanya sekitar 2-3 hektar, kini area wisata kebun binatang itu diperluas hingga ke bagian belakang. Sebuah terobosan yang kini tengah dipersiapkan secara bertahap adalah membuat sebuah area bernama Kampung Sumatera.

Pengembangan Kampung Sumatera ini, kata Gung Gek Trisna, terinsipirasi oleh alam dan budaya pulau terbesar di Indonesia yaitu Sumatera, Kampung Sumatera merupakan rumah untuk satwa-satwa yang berasal dari Sumatera seperti gajah, harimau, orangutan, beruang madu dan berbagai satwa lainnya. Rumah baru bagi satwa-satwa langka ini dirancang lebih luas dan menyerupai habitat aslinya. Dilengkapi dengan air terjun, taman-taman yang indah, restoran, rute baru naik gajah dan yang termegah adalah kolam renang gajah terbesar di Indonesia seluas 1.000m2.

Kampung Sumatera sendiri luasnya lebih dari 4 hektar dan dikelilingi oleh lahan tropis. Kawasan ini telah dibuka untuk seluruh pengunjung Bali Zoo pada tanggal 1 Januari 2017 lalu.

“Pembangunan Kampung Sumatera ini dilakukan secara bertahap. Pada 25 Desember lalu kami merampungkan jalur trek terlebih dahulu. Kemudian tanggal 1 Januari 2017 kami telah membuka Kampung Sumatera ini untuk para pengunjung. Namun pembangunannya masih akan terus dilaksanakan dan rencananya akan rampung pada pertengahan tahun 2017 ini,” kata Gung Gek Trisna memaparkan.

 

Independensi di Lingkungan Keluarga

Gung Gek Trisna lahir dan bertumbuh di Singapadu, sebuah desa yang sarat dengan kesenian pahatnya di Kabupaten Gianyar – Bali. Dara cantik yang merupakan buah hati dari pasangan Anak Agung Gede Putra dan Anak Agung Mayudari, sekaligus anak kedua dari lima bersaudara. Meski ditakdirkan lahir sebagai anak perempuan, Gung Gek Trisna tidak sepenuhnya akrab dengan hal-hal feminisme. Terbukti dirinya pun sangat menggandrungi olahraga bela diri, khususnya Muay Thai. Ia pun mengaku sewaktu kecil sangat suka bergulat dengan orang-orang terdekatnya.

Masa kanak-kanak Gung Gek Trisna diwarnai oleh keceriaan kenangan yang tidak akan luput dari ingatan. Dulu sebelum ayahnya mendirikan Bali Zoo, Gung Gek telah akrab dengan bermacam jenis hewan. Berawal dari kunjungan rutin ke pasar burung bersama ayahanda tercinta, menengok kasanah unggas di tempat tersebut, Gung Gek jadi getol memelihara hewan.

Ia mengenang, ayahnya pun sempat memelihara beberapa jenis hewan di belakang rumah mereka. Antara lain orang utan, rusa, bermacam jenis burung, dan beragam hewan lainnya yang tak lazim dipelihara di rumah. Hingga suatu hari seluruh hewan tersebut harus disita oleh Dinas Peternakan dan Hewan setempat sebab tidak adanya surat ijin pemeliharaan hewan-hewan tersebut.

Proses penyitaan tersebut sontak membuat keluarga Gung Gek Trisna sedih. Sebab mereka betul-betul menyayangi satwa secara tulus dan tindakan mereka bertujuan baik terhadap hewan-hewan yang telah disita tersebut. Maka peristiwa pun menjadi sebuah pembelajaran sekaligus momentum awal tercetusnya ide pendirian Bali Zoo.

Dengan penuh perjuangan, ayah Gung Gek Trisna berhasil memperoleh ijin memelihara satwa, terutama jenis yang dilindungi. Dari sebuah lahan yang menjadi satu dengan kediaman mereka, cikal bakal Bali Zoo mulai terbentuk. Kebun binatang tersebut berdiri pada tahun 1999 namun baru diresmikan tahun 2002.

Setelah sekian lama Bali Zoo didirikan, orangtua Gung Gek Trisna tidak pernah secara sengaja mengarahkan putra-putri mereka untuk mau melanjutkan usaha keluarga. Sikap demokratis diterapkan di lingkungan keluarga mempersilahkan Gung Gek Trisna untuk menjadi independen dalam mengambil keputusan. Terbukti setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Denpasar, ia melanjutkan kuliah ke jurusan Desain Mode di salah universitas di Jakarta.

Meski memiliki latar belakang pendidikan yang melenceng dari profesinya saat ini, namun bukan berarti hal tersebut menghambat Gung Gek Trisna untuk terus berkarya. Ia banyak belajar ilmu manajemen usaha dari Sang Kakak yang telah terlebih dahulu melanjutkan tonggak pengelolaan Bali Zoo sejak tahun 2010 lalu.

Be first to comment