Fasilitasi Anak Muda Bali dalam Program Pemagangan Kerja ke Negeri Sakura

Lika-liku perjalanan hidup yang penuh dengan kejutan telah menempa sosok putra daerah bernama I Made Sudiada menjadi pribadi yang optimistik dan berani menghadapi tantangan. Termasuk tantangan untuk membuka kesempatan bagi masyarakat Bali yang ingin mencoba pengalaman kerja di luar negeri. Melalui Lembaga Pemagangan Kerja (LPK) Duta Sahaya, I Made Sudiada telah berhasil mengirimkan ratusan anak muda di Bali untuk melakukan pemagangan kerja ke Jepang. Tak sedikit pula lulusan LPK Duta Sahaya yang tercatat diterima di dunia kerja maupun sukses membangun usaha secara mandiri.

Peluang kerja di luar negeri menjanjikan penghasilan yang fantastis serta kesempatan menikmati keindahan budaya dan alam di negeri yang asing. Namun yang kerap menjadi momok untuk bekerja ke luar negeri adalah akses yang sulit serta biaya yang tak sedikit. Melihat fenomena tersebut, I Made Sudiada berinisiatif mendirikan suatu lembaga pemagangan kerja yang dapat mengakomodir masyarakat untuk mengecap pengalaman kerja di luar negeri. Diharapkan melalui lembaga ini, calon tenaga magang dapat mempersiapkan diri baik dari segi kompetensi kerja maupun dokumen legal.

Bersama rekannya bernama I Gede Putu Wardana, I Made Sudiada merintis LPK Duta Sahaya yang berlokasi di Jl. Dr. Ir. Soekarno No.36X, Desa Delod Peken, Tabanan. Sebagai lembaga yang ikut mendorong upaya-upaya pengembangan kemitraan global, LPK Duta Sahaya berfokus pada program pemagangan kerja ke Jepang. Negeri Sakura ini dipilih lantaran menawarkan beragam kesempatan kerja baik di sektor formal maupun informal. Selain itu, Jepang menjadi salah satu negara yang menjadi kiblat pengembangan teknologi terkini serta memiliki unsur budaya yang hampir sama dengan Indonesia.

“Program Magang ke Jepang kalau dilihat dari model pelatihannya, merupakan program unggulan dikarenakan secara tidak langsung dapat memfasilitasi putra-putri bangsa untuk menempa diri di negara yang terkenal akan kedisiplinan dan keteraturannya”, ujar I Made Sudiada.

Adapun manfaat lainnya yang didapat oleh para peserta magang ke Jepang di antaranya peluang mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi dari upah rata-rata di dalam negeri, pengalaman menikmati keindahan alam dan budaya masyarakat sekaligus menyaksikan teknologi modern yang ada di Jepang, serta kesempatan karier selepas menyelesaikan program magang yang berlangsung selama tiga tahun.

Jika dilihat dari pengalaman ratusan peserta magang yang sukses diberangkatkan lewat LPK Duta Sahaya, banyak yang akhirnya diterima kerja di perusahaan di dalam negeri. Ada pula yang ingin membuka usaha mandiri atau entrepreneur, seusai kembali ke Tanah Air dengan modal selama pemagangan 3 tahun. Adapun KOUGAS Community siap menjadi mitra untuk mendampingi alumni LPK Duta Sahaya dalam berbisnis. Mulai dari mentoring seluk-beluk bisnis dan juga bertukar pengalaman dengan mantan magang Jepang yang sudah sukses di bisnisnya.

Ke Jepang di Usia Belia

Berkat teguh pada prinsip membangun kepercayaan kepada semua pihak dengan sikap kejujuran dan integritas, I Made Sudiada pun berhasil memajukan LPK yang telah ia rintis sejak tahun 2011. Padahal bila menengok kembali masa-masa awal berdiri, lembaga yang ia bangun kurang dilirik. Namun kekuatan optimistik dalam diri Made Sudiada tak membuatnya patah arang hingga berhasil menyerap peserta didik pada tahun-tahun berikutnya.

 

Di balik kisah keberhasilan Made Sudiada sebagai fasilitator program magang ke luar negeri yang telah membuka kesempatan kerja bagi ratusan anak muda, tersimpan kisah perjuangan yang luar biasa. Ia terlahir di lingkungan keluarga sederhana tepatnya di Kabupaten Jembrana. Sebagai anak seorang petani tidak menyurutkan keinginannya untuk terus mengakses pendidikan meskipun ia harus menempuh perjalanan beberapa kilometer ke sekolah dengan berjalan kaki.

Sebuah kesempatan untuk ke Jepang pada usia yang sangat belia akhirnya menjadi titik balik kehidupan Made Sudiada. Kala itu usianya masih 15 tahun atau masih duduk di bangku SMP, ia mendapat tawaran dari kerabat dekatnya untuk mengikuti program pertukaran budaya ke Jepang. Banyak yang menolak kesempatan ini dengan alasan takut tak bisa beradaptasi di negeri yang asing, namun tidak bagi Made Sudiada yang menyanggupinya karena penasaran terhadap kehidupan di dunia luar.

Pada tahun 1991, untuk pertama kalinya Made Sudiada keluar daerah sekaligus pengalaman perdana menumpang pesawat. Sesampainya di Jepang, ia dititipkan kepada salah seorang warga Jepang yang akan menjadi orangtua angkatnya dalam beberapa bulan. Saat itu Made Sudiada merasa cemas bercampur rasa penasaran yang tinggi tentang nasibnya ke depan di negara yang sangat asing baginya. Apalagi modal berbahasa Jepang yang ia miliki masih sangat minim, agak menyulitkan dirinya berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.

Ternyata di tempat ia tinggal jauh dari hiruk pikuk perkotaan, tidak seperti bayangannya terhadap Jepang yang modern dan maju. Namun nilai plus yang ia dapatkan selama tinggal bersama orang Jepang adalah kedisiplinan dan keteraturan hidup. Made Sudiada mengisi kesehariannya dengan mengunjungi sekolah dasar terdekat baik untuk mengikuti pelajaran penjaskes yang tengah berlangsung maupun belajar aksara Jepang di ruang guru. Setelah masa tinggal di Jepang berakhir, Made Sudiada pulang dengan membawa harapan suatu hari nanti dapat kembali ke negeri tersebut. Ia menyadari bahwa impian yang terpatri tak langsung mewujud nyata secara instan, namun ia yakin lewat kerja keras ia akan segera mencapai impian tersebut.

Setamat SMA, Made Sudiada memutuskan untuk langsung terjun ke dunia kerja. Nekat ia merantau seorang diri ke wilayah Legian dengan bekerja sebagai freelancer, yang menawarkan paket wisata kepada para turis. Hingga suatu ketika ia mencoba melamar sebagai tour guide khusus wisatawan Jepang di suatu perusahaan tour and travel dan akhirnya diterima. Sejak itulah Made Sudiada mulai dapat menata kehidupan finansial sampai dapat dikatakan sukses secara materi. Bahkan ia dapat membahagiakan kedua orangtua lewat hasil kerja kerasnya selama beberapa tahun.

Lewat profesi sebagai tour guide, Made Sudiada membangun relasi dengan banyak orang Jepang. Salah satunya menawarkan kesempatan magang bagi SDM yang ada di Bali untuk bekerja di luar negeri. Made Sudiada menyambut peluang tersebut dengan mengajak rekannya yang merupakan seorang birokrat. Mereka menyatukan visi untuk membangun sebuah lembaga resmi pengirim tenaga magang ke luar negeri yang kini dikenal dengan nama LPK Duta Sahaya.

Eksistensi LPK Duta Sahaya yang hingga kini terus membantu masyarakat untuk mengakses informasi dan mempersiapkan tenaga magang ke Jepang menjadi bukti keberhasilan Made Sudiada menjaga citra profesionalisme lembaga. Tiap tahunnya, peminat program magang ke Jepang terus mengalami peningkatan seiring dengan banyaknya alumni yang menorehkan cerita kesuksesan. Made Sudiada pun berharap dapat terus ikut serta menyukseskan programprogram pembangunan yang ditujukan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui program pemagangan ke Jepang yang ia laksanakan saat ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!