Dulu Karyawan Kini Sukses Bangun Biro Desain Arsitektur dan Pengawas Konstruksi Bangunan

Bagi Ir. Nyoman Armita, tidak ada resep khusus dalam meramu kesuksesan dalam kehidupan. Hanyalah kerja keras dan ketekunan yang mampu mengantarkan seseorang untuk berhasil mencapai tujuan. Berpangku tangan saja sembari menunggu peluang tidak akan membawa seseorang ke manapun. Prinsip itulah yang membuat Nyoman Armita berani keluar dari zona nyaman sebagai karyawan di perusahaan yang bergaji besar, Kemudian mantap mengibarkan bendera usaha sendiri yang ia beri nama CV Manar Jaya.

Berpengalaman selama puluhan tahun berkecimpung di bidang arsitektur, Nyoman Armita termasuk jajaran arsitek senior yang masih eksis berkarya hingga saat ini. Pria lulusan Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana ini merupakan sosok di balik biro konsultan arsitek CV Manar Jaya. Perusahaan ini telah menangani berbagai proyek, baik sebagai biro jasa desain arsitektur, konsultan maupun pengawas pekerjaan konstruksi bangunan dan proyek sipil.

Sebelum dikenal sebagai founder sekaligus principal architect di CV Manar Jaya, ia telah mencicipi asam garam pekerjaan dari level terbawah di berbagai proyek konstruksi. Misalnya saja ketika sudah resmi menyandang gelar insinyur, ia sempat merasakan pengalaman bekerja sebagai kuli bangunan. Status pendidikan tinggi yang ia miliki tidak membuatnya gengsi dan memilih-milih pekerjaan. Ia beranggapan bahwa pekerjaan apa saja layak untuk dilakoni asalkan tidak melanggar norma.

Siapa sangka dari pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang kuat itulah yang mengantarkan pria kelahiran 1955 itu pada kesempatan kerja lainnya. Misalnya saja ketika ia berstatus karyawan di PT Tunas Jaya Sanur yang merupakan perusahaan milik pengusaha terkemuka yaitu I Made Dapir. Nyoman Armita selalu menunjukkan kinerja terbaiknya serta selalu disiplin dalam bekerja membuat Made Dapir selalu puas dengan hasil kerja yang ditunjukkan Armita.

Hingga pada suatu ketika, perusahaan Made Dapir memenangkan tender proyek milik Raja Arab Saudi, Nyoman Armita menjadi salah satu karyawan yang dipercaya terbang ke negeri minyak tersebut. Di sana Armita dan rekan-rekannya mengerjakan proyek pemasangan atap pada vila pesanan Sang Pengusa Arab Saudi. Pengalaman yang didapat pada tahun 1994 menjadi salah satu yang berkesan bagi Armita karena untuk pertama kalinya ia mengunjungi daerah Timur Tengah. Meskipun adanya keterbatasan bahasa namun proyek tersebut berhasil dirampungkan dan Armita pun pulang ke tanah air.

Perjalanan karier Nyoman Armita pun masih berlanjut di bawah naungan perusahaan milik Made Dapir. Dari sana ia banyak mendapat ilmu mengenai bidang arsitektur maupun usaha. Pelan tapi pasti ia juga terus meningkatkan posisi kariernya hingga bisa dikatakan memiliki kehidupan yang cukup mapan dari penghasilannya. Namun ketika krisis moneter tahun 1998 melanda, banyak proyek konstruksi yang dihentikan begitu pula dengan yang ditangani oleh perusahaan tempat Armita bekerja.

Sebenarnya dalam masa-masa krisis tersebut, Nyoman Armita tetap mendapat haknya sebagai karyawan. Hanya saja dalam batinnya merasa tidak nyaman lantaran selama itu ia tidak mengerjakan pekerjaan apapun. Akhirnya ia memutuskan keluar dari tempat bekerjanya selama 8 tahun tersebut dan masuk ke perusahaan konsultan lain. Di tempat yang baru itu ia bekerja hingga tahun 2002.

Pada tahun tersebut ia bertemu dengan salah satu pegawai Dinas Pekerjaan Umum di Singaraja karena Nyoman Armita ditugaskan ke Bali Utara. Dari sanalah ia mendapat saran untuk mendirikan biro konsultasi secara mandiri. Berbekal pengalaman dan jam terbang tinggi di bidang konsultan desain arsitektur, Nyoman Armita akhirnya mengundurkan diri sebagai karyawan dan mendirikan usaha sendiri.

Tentunya perjuangan yang tidak mudah dalam mengembangkan usaha yang masih terbilang baru berjalan beberapa tahun. Namun ayah dua anak ini tidak pernah menyerah dalam menghadapi segala tantangan usaha. Kesabaran dan kerja kerasnya akhirnya mulai membuahkan hasil, tepatnya pada tahun 2007 ia mulai terpilih dalam tender proyek. Mulai dari proyek pemerintahan, swasta maupun pribadi.

Demi meningkatkan profesionalisme, Nyoman Armita memutuskan bergerak di dunia usaha dengan memenuhi unsur legalitas. Ia pun meresmikan biro konsultannya menjadi badan usaha berbentuk CV dan beralamat kantor di Jl. Nuansa Hijau Utama III No. 10 Denpasar. Nama Manar Jaya diambil dari penggalan namanya sendiri yaitu Man dan Ar. Kemudian kata “Jaya” digunakan dengan harapan agar usaha itu dapat berkembang dan berjaya di tengah kompetisi usaha.

Semangat Bersekolah

Karakter pejuang dan giat berusaha meraih apa yang ia inginkan, telah ada dalam jiwa Nyoman Armita sejak usia kanak-kanak. Pria asli Mengwi, Badung tersebut termotivasi untuk mengubah taraf kehidupannya sewaktu ia telah mengenal bangku sekolahan. Maklum, ia bertumbuh dari kalangan keluarga yang sederhana di mana orangtuanya hanya berprofesi sebagai petani di desa.

Meskipun keadaan ekonomi keluarganya tidak dalam kondisi yang stabil, hal itu tidak membatasi semangat Nyoman Armita untuk terus bersekolah. Ia meyakini bahwa lewat pendidikan, ia dapat meningkatkan kualitas diri sehingga nantinya dapat meraih kesempatan kerja di bidang yang menjanjikan. Ayahnya sempat mengatakan angkat tangan dalam membiayainya, namun Armita bersikeras tetap melanjutkan pendidikan. Lantaran terus memaksakan kehendaknya, membuat Sang Ayah akhirnya luluh. Orangtuanya mengatakan akan berusaha membiayai sekolahnya hanya sampai masa SMA saja.

Pada tahun 60-an, Nyoman Armita merantau ke Denpasar karena di wilayah Mengwi sendiri belum ada SMA. Sebelum menamatkan sekolahnya, ia nekat untuk mengikuti seleksi masuk ke jurusan arsitek. Pada saat itu ia tidak tahu bagaimana cara membiayai kuliahnya nanti, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana cara mendaftar dan diterima di sana.Beruntung setelah diterima, kakaknya yang sudah bekerja bersedia membiayai kuliahnya hingga memberi tumpangan tempat tinggal.

Hanya sampai di semester tiga, Nyoman Armita masih dibiayai oleh kakaknya. Selebihnya ia berusaha mencari pundipundi rupiah dengan cara bekerja sambilan. Salah satu pekerjaan yang dilakoninya adalah menjadi pengawas proyek. Lewat kerja kerasnya ia berhasil mengantongi penghasilan Rp 75.000,- per bulan, termasuk nominal yang cukup besar saat itu untuk ukuran mahasiswa yang tinggal di rumah kos.

Akhirnya setelah 10 tahun berkuliah, Nyoman Armita berhasil melaksanakan wisuda. Sebagai salah satu angkatan awal di Jurusan Arsitektur Udayana, ia mengatakan bahwa di masa itu sudah menjadi hal yang lumrah untuk lulus kuliah dalam waktu yang lama. Namun justru di masa-masa itu banyak lulusan yang saat ini menjadi tokoh di bidang arsitektur yang namanya dikenal baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Kisah perjalanan hidup sosok bernama Nyoman Armita dapat menjadi sumber inspirasi bagi insan manapun untuk terus semangat meraih citacita. Salah satu karakter pribadi yang dapat dicontoh dari Nyoman Armita adalah kegigihan dalam bekerja baik sebagai karyawan atau pemilik usaha. Meski kini telah telah menginjak usia 65 tahun ia tetap produktif dan terus memberikan karya terbaiknya untuk masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!