Cara memperlambat kematian sel otak seiring bertambahnya usia

Cara memperlambat kematian sel otak seiring bertambahnya usia

Otak memerlukan olah raga agar proses oksigenasi berjalan lancar. Olah raga juga memperlancar proses oksigenasi ke jantung. Sebab bertambahnya usia, seseorang akan mengalami kematian sel otak setiap hari. Sehingga terjadilah otak menyusut. Kondisi ini tidak dapat dicegah meski bisa diperlambat. Bagaimana cara memperlambatnya?

Ahli bedah saraf Comprehensive Brain and Spine Center (CBSC) Surabaya, dr Sofyanto SpBS mengungkapkan, ada cara sederhana untuk memperlambat dan sangat bermanfaat jika dilakukan.

“Salah satunya tepuk tangan lima jari. Ini bisa dilakukan setiap harinya kurang lebih selama 3 menit. Tepuk tangan dilakukan sambil mengangkat tangan ke atas dan mengikuti irama musik,” kata dr Sofyanto, Rabu (6/8/2017).

Kenapa tarik ke atas? Sofyanto mengaku pada saat menggerakkan ke atas, jantung memompa dengan lebih cepat. Darah yang akan dikirim ke tangan saat di atas akan melewati otak, pasti otak akan dapat asupan oksigen yang cukup.

Menurut Sofyan, otak perlu cukup oksigen setiap harinya. Untuk itu, kapasitas jantung perlu ditingkatkan. “Kapasitas jantung perlu ditingkatkan. Karena dengan begitu, oksigenasi ke otak akan semakin meningkat. Otak akan mendapat oksigen yang cukup,” terangnya.

Olahraga minimal 30 menit per hari, menurut Sofyan, bisa menjadi pilihan lain. “Olahraga lebih bagus lagi. Sehari 30 menit atau minimal seminggu 150 menit,” jelas alumnus Nagoya University Hospital, Jepang ini.

Selain meningkatkan oksigenasi, otak juga perlu dirangsang. Sofyan menggunakan istilah ‘kembali ke sekolah’ untuk merangsang otak. “Kita perlu belajar. Belajar bisa dengan mengembangkan hobi. Belajar menari, belajar bahasa, belajar dansa dan lain-lain. Belajar hal-hal baru juga bisa. Jadi bukan benar-benar kita kembali ke sekolah, tapi proses belajar itu yang perlu kita terapkan setiap hari, supaya otak ini terangsang,” jelasnya.

Sofyan mengingatkan bahwa bekerja dengan tantangan sebenarnya merupakan suatu latihan yang baik bagi otak.

“Kalau kita biasanya hidup enak, tenang, semua serba ada, pasti kalau difoto otaknya menyusut, karena tidak ada tantangan. Makanya kalau stres seharusnya bersyukur, otak kita bisa bekerja. Kalau orang kantoran misalnya tiap hari hanya datang, duduk, baca-baca, absen, pulang, penyakit bisa datang. Tapi kalau tertekan, otak kita terangsang,” ujar bapak empat anak ini.

Bekerja dengan tantangan menurutnya adalah sesuatu yang baik. “Ada target tambahan, misalnya sekarang bikin kue 2 macam, bulan depan targetnya harus ditambahkan, bikin 4 macam misalnya,” tegasnya

Selain itu, untuk orang yang telah lanjut usia, hal lain yang bisa dilakukan adalah bergaul dengan orang yang lebih muda. “Ini penting. Kadang kita justru mengeluh saat ada ponakan atau cucu menangis. Rasa jengkel, kaget itu bisa merangsang otak kita. Sehari-hari, cobalah bermain dengan cucu, keponakan, bertukar pikiran dengan orang-orang yang lebih muda. Ini simple, sederhana, tapi sangat bermanfaat,” pungkasnya.

Be first to comment