Bisnis Logistik Terus Terangkat Berkat Pelayanan Cepat dan Akurat

Cermat melirik peluang di bidang logistik yang fokus menggarap jaringan minimarket, I Ketut Tjuatja Agus Sukantha mampu mengecap sukses di usia muda. Perusahaan yang ia bangun dari nol selalu dipercaya sebagai mitra logistik handal yang memberikan layanan logistik terintegrasi. Memiliki tenaga kerja yang terlatih dan berpengalaman, PT Smart Logistic Indonesia menangani produk mulai dari pengiriman, penyimpanan dan pendistribusian. Selain itu dukungan teknologi berbasis sistem IT menjadikan layanan PT Smart Logistic Indonesia semakin akurat, cepat dan terjangkau.

Usianya kala merintis usaha masih relatif muda, yakni 26 tahun. Itu nyatanya tidak menghalanginya untuk berani menjajal peluang bisnis logistik. Pria yang akrab disapa Agus ini, membangun usaha jasa logistik PT Smart Logistic Indonesia yang memiliki jaringan seluruh Indonesia ini sejak tahun 2007. Memulai dari keinginan mengoptimalkan kinerja dari perusahaan angkutan milik orangtua, sang ayah, dia merangsek masuk ke bisnis ini dan bersaing dengan pengusaha lainnya.

Beralamat di Jl. Raya Gatot Subroto Barat No. 168 Kerobokan Kaja, PT Smart Logistic Indonesia memiliki Pelanggan dari pabrik-pabrik nasional, distributor nasional, distibutor lokal, minimarket nasional dan minimarket lokal. Peluang usaha distribusi barang dari gudang peretail ke jaringan gerai minimarket ini ternyata menjanjikan. Sebab, tidak semua minimarket memiliki armada logistik sendiri, sehingga mereka menggunakan jasa logistik. Maklum, bisnis peretail fokus pada sektor retail, bukan di sektor logistiknya. Peluang inilah yang ditangkap oleh Agus.

Dari bermodal satu unit truk, kini Agus mampu memberikan pelayanan pengiriman dari Sumatra hingga ke Nusa Tenggara Timur. Berbagai jenis kendaraan tersedia mulai dari truk berukuran besar, sedang, kecil atau pun mobil boks baik berpendingin maupun non pendingin. Hal itu tak lepas dari perkembangan bisnis retail khususnya di Bali yang terus bertumbuh. Selama roda bisnis minimarket dan supermarket terus berputar, bisnisnya akan ikut terangkat.

Pengalaman di Negeri Kangguru

Agus membangun serta mengembangkan bisnis di bidang logistik untuk mengoptimalkan kinerja dari perusahaan angkutan yang dirintis ayahnya yang bernama I Ketut Tjuatja Tjinta Negara. Sang ayah terlebih dahulu bergelut di bisnis transportasi sejak tahun 60-an. Ayahnya melayani jasa pengiriman daerah Jawa-Bali via truk dan dari profesi itulah mampu membesarkan 8 orang anak. Bahkan lewat hasil jerih payah sang ayah dapat memfasilitasi pendidikan Agus hingga ke luar negeri.

Setamat SMA, Agus berkeinginan untuk segera terjun ke dunia usaha mengikuti jejak ayahanda. Namun ayahnya tidak merestui keputusan tersebut lantaran menginginkan Agus yang merupakan anak bungsu itu untuk bisa merampungkan kuliah. Ketika sudah bulat tekadnya menuruti permintaan ayahnya, kampus yang ia tuju justru tidak lagi membuka pendaftaran mahasiswa. Lantas, Agus mengambil keputusan untuk mengambil kuliah di luar negeri tepatnya di Sidney, Australia.

Pada enam bulan pertama pengalaman hidup di negeri yang sangat asing, Agus harus beradaptasi dengan zona di luar kenyamanannya. Selain harus mempertajam kemampuan bahasa Inggris pria kelahiran Negara 14 April 1981 ini, juga harus membagi waktu antara kuliah dan kerja sambilan. Upah bekerja di restoran cepat saji ia kumpulkan untuk membayar sewa rumah. Uniknya, Agus juga menyewakan rumah itu pada orang lain sehingga ke depannya ia memperoleh keuntungan yaitu mendapat tempat bernaung dengan budget seminimal mungkin.

Setelah tamat kuliah Agus memutuskan mendapatkan izin tinggal tetap (Permanent Resident) di Australia agar dapat melanjutkan kariernya di sana. Waktu itu terbilang masa perjuangan yang cukup berat lantaran ia harus bekerja selama 12 jam per hari sebagai sopir bus. Namun upah yang didapat sangat pantas untuk membayar kerja kerasnya.

Membangun Usaha

Suatu ketika Agus dipanggil pulang ke tanah air untuk melanjutkan cita-cita sang ayah yakni mengembangkan bisnis angkutan miliknya. Lalu di tahun 2008 Agus mendirikan CV Dewata Manunggal Jaya yang bergerak di bidang distributor air mineral, snack, minyak goreng dan popok. Produk-produk tersebut dipilih dengan pertimbangan modal yang dikeluarkan cukup sedikit dan produk tersebut selalu dibutuhkan masyarakat.

Kian lama usaha yang dirintisnya terus bertumbuh ditandai dengan terus bertambahnya rekanan usaha yang ingin produknya didistribusikan. Hingga pada tahun 2013, ia merasa perusahaan milik ayahnya harus dikelola secara profesional untuk dapat bersaing dengan perusahaan angkutan lainnya. Kala itu juga ia mendirikan PT Tjuatja Utama, yaitu perusahaan yang berfokus di bidang jasa angkutan via darat. Namun, di dua tahun setelahnya Agus memutuskan keluar dari perusahaan itu dan berfokus pada pengelolaan usahanya sendiri.

Tahun 2015 merupakan tahun yang sulit bagi ayah tiga anak ini karena salah satu produk ungulannya hengkang dari keagenan. Hal itu mengharuskannya untuk bertahan dengan produk yang kurang populer dan menopang biaya operasional yang cukup besar setiap bulannya. Saat itu terlintas untuk mendirikan usaha transportasi seperti yang pernah dilakukan saat bekerja dengan ayahnya dan berharap usaha ini dapat menambah omzet sehingga dapat menutup biaya operasional sehingga perusahaan tidak merugi.

“Pada bulan agustus 2015 saya mendirikan PT Smart Logistics Indonesia, bermodalkan DP Rp 50 juta saya membeli truk pertama saya. Tapi ternyata bukan bertambah baik, usaha ini justru semakin tidak terkelola dengan baik di saat saya memutuskan untuk membeli truk yang ke dua di tahun 2017. Waktu itu utang usaha melebihi kemampuan perusahaan untuk membayar dan yang bisa saya lakukan tidak banyak selain berdoa agar semua berjalan sesuai rencana”, kenangnya.

Sebagai pengusaha, Agus harus mengambil keputusan rasional, tepatnya pada Mei 2019 ia memutuskan untuk menutup usaha distributornya dan menjual semua sisa aset yang ada untuk melunasi utang usaha. Saat itu ia menyadari bahwa kelebihannya adalah selalu melayani konsumen dengan sepenuh hati. Menggunakan sedikit modal yang tersisa Agus fokus pada usaha pelayanan dan merubah konsep PT Smart Logistics Indonesia yang awalnya berupa perusahaan transportasi menjadi perusahaan penyedia jasa pelayanan logistik atau dikenal dengan Third Party Logistics.

“Disertai dengan mengubah sedikit pola pikir dari asset oriented company menjadi less asset company, memungkinkan kami menjangkau lebih banyak pelanggan lebih banyak destinasi dalam waktu relatif singkat, yaitu dengan pola bisnis kemitraan usaha. Benar adanya, di saat pandemi seperti ini banyak perusahaan yang kesulitan bahkan tutup. Tetapi perusahaan kami terus berkembang bahkan telah melampaui kinerja perusahaan saya sebelumnya hanya dalam waktu satu setengah tahun”, ungkapnya.

Suami dari Natasya Budiyanto ini mengakui bahwa persaingan usaha ke depan akan semakin tinggi, namun dengan terus memberikan pelayanan yang prima serta senantiasa menanamkan etos kerja kepada SDM serta para sopir armadanya, Agus optimistis bisa bertahan dalam bisnis ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!