Berpartisipasi Membangun Properti di Daerah Kelahiran yang Berlandaskan Tri Hita Karana

Gede Suardita mengawali karirnya sejak tahun 2002 di sebuah kantor developer sambil melanjutkan kuliah ekstensi Fakultas Ekonomi di Universitas Udayana. Tahun 2005, perusahaan tempatnya bekerja mengalami situasi cash flow yang tidak baik. Kemudian diputuskanlah untuk menutup perusahaan lama dan membangun perusahaan baru.

Di awal pendirian, perusahaan baru cukup sukses mendapatkan proyek-proyek yang bernilai besar. Namun pada tahun 2009, karena memiliki perbedaan visi misi, perusahaan yang dinamakan Bumi Cempaka Asri tersebut kemudian diambil alih oleh Gede Suardita, termasuk semua aset dan tim di dalamnya. Sebagai pria asli Tabanan, ia pun memilih untuk berfokus membangun properti sebagai sebuah kebutuhan masyarakatnya yang mampu menyentuh dari berbagai latar belakang ekonomi, khususnya menengah ke bawah, di atas tanah kelahirannya tersebut.

Bumi Cempaka Asri yang berlokasi di Jl. Tukad Yeh Empas No.Blok 32/3, Banjar Anyar, Kediri, Tabanan ini pun menerapkan proyek perumahan yang berlandaskan pada ajaran Tri Hita Karana. Agar di kawasan yang dibangun tidak bersinggungan dengan lingkungan sekitar dan ke-ajeg-an Bali dalam bidang perumahan mampu dipertahankan lebih lama. Gede Suardita pun menambahkan gaya arsitek tradisional Bali tak akan pernah lepas dari konsep dari Bumi Cempaka Asri.

Tantangan terbesar di awal membangun perusahaannya, bagi Gede Suardita datang dari diri pribadi, di mana saat itu usia masih begitu belia, yakni 24 tahun. Otomatis secara bisinis seseorang akan sulit untuk mempercayakannya, baik dari segi permodalan maupun segi relasi. Namun saat itu ia tetap mencoba peruntungannya dengan tetap menjalankan perusahaan tersebut dan menunjukkan prestasi. Dari prestasi yang berhasil diukir, barulah mulai berdatangan pihak-pihak yang ingin menggunakan jasanya.

Tak hanya proyek-proyek perumahan, Bumi Cempaka Asri pun berkesempatan terlibat langsung dalam proyek ikonik, di Kabupaten Buleleng yakni perumahan Wahyuning Lestari, yang merupakan perumahan bersubsidi pertama kali di Bali dibangun pada tahun 2006 hingga diresmikan tahun 2008 oleh Menteri Perumahan Rakyat, Yusuf Asy’ari. Di Kabupaten Tabanan, Bumi Cempaka Asri pun membangun kawasan perumahan terbesar sekitar tahun 2000-an, dan juga membangun 700 unit di Kecamatan Kerambitan.

 

Secara umum membangun sebuah perumahan bersubsidi dibutuhkan kawasan dengan luas tanah 1ha yang tidak produktif menjadi sebuah perumahan, namun tetap memperhatikan sistem drainase tanpa melupakan nuansa Bali itu sendiri. Rumah bersubsidi ini diperuntukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan anak-anak muda yang berpenghasilan pas-pasan tapi memiliki cita-cita tinggi untuk memiliki rumah, sangat cocok untuk diinvestasikan. Dengan harga 168 juta rupiah, uang muka 5 juta dan angsuran 1 juta, sangat bisa dijangkau, dengan syarat, generasi muda dapat dsiplin membagi penghasilannya. Berhubung masih muda, masa itu baiknya digunakan untuk berinvestasi, sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Mendapat Julukan Raja Rumah Burung

Orangtua Gede Suardita bekerja sebagai pedagang ikan laut, dari latar belakang tersebut, tidak terbesit sedikitpun ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Ia hanya berusaha menjalani apa yang menjadi pilihannya dengan ketekunan dan kejujuran. Apalagi bila kita memiliki kepandaian, pasti ada jalan.

Bagi yang ingin berbisnis properti, tidak semua bisa terjun secara langsung. Karena diakui Gede Suardita bisnis ini cukup rumit, dan permasalahannya kompleks. Kalau pariwisata, sangat tergantung dengan situasi politik dan alam. Bagi pria yang memiliki hobi motor gede dan olahraga ini, ia lebih mendukung generasi muda untuk mencoba ekonomi kreatif dan modern yang diaplikasikan pada lahan pertanian sebagai warisan leluhur kita.

Karena banyaknya rumah murah relatif lebih kecil, yang dibangun Bumi Cempaka Asri, julukan “Raja Rumah Burung” Gede Suardita ia dapatkan dari teman-temannya sesama di bidang properti. Tapi jangan salah, Gede Suardita menyatakan rumah-rumah tipe tersebutlah yang bertahan hingga saat ini, baik dari segi payment maupun ketersediaan lahannya. Bumi Cempaka Asri pun hingga saat ini telah membangun kurang lebih 30.000 rumah sejak tahun 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!