Berkiprah dalam Membangun Infrastruktur Daerah dengan Konstruksi dan Teknologi yang Memiliki Daya Saing

Nur Fatra Muhtar pemilik dari PT Konindo Panorama Konsultan memutuskan kembali ke Bali setelah melanglang buana dengan pengalamannya bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Ia kemudian mulai mandiri membangun sebuah usaha yang terlibat dalam membangun infrastruktur daerah, yang berpengaruh penting bagi roda pergerakan pertumbuhan ekonomi.

Lulus di tahun 2007 dari jurusan teknik sipil, Universitas Warmadewa, Nur Fatra memutuskan untuk bertransmigrasi, ia mencoba peruntungan dengan bekerja di perusahaan kontraktor di Jakarta. Di perusahaan tersebut, ia diberi kepercayaan untuk ditempatkan beberapa lokasi yang berbeda di Indonesia, di antaranya Timor Leste, Kendari, Surabaya, terakhir di Kupang pada tahun 2014.

Berbekal pengalaman dari pulau satu ke pulau yang lain, membuat Nur Fatra cukup berpuas diri dengan pengabdiannya pada perusahaan. Ia kemudian kembali ke Bali, mencoba membuka usaha di bidang jasa konsultan bangunan. Awalnya perusahaan yang ia bangun merupakan cabang dari perusahaan di Kupang. Seiring berjalannya waktu, pria kelahiran Banyuwangi tersebut mampu untuk survive, meskipun proyek yang dikerjakan masih belum seberapa besar. Namun dengan kiprahnya untuk terus berkarya dalam dunia yang ia geluti, ia yakin akan membawa perkembangan dalam usaha yang ia beri nama PT Konindo Panorama Konsultan.

PT Konindo Panorama Konsultan yang bergerak di bidang konsultan perencanaan dan pengawasan berlokasi di Jl. Bedahulu No.31, Peguyangan, Denpasar Utara ini, telah menangani beberapa proyek di antaranya gedung Bank Pasar Bangli, kantor Koramil Payangan, SD Padangsambian, pembangunan selasar pengubung Kantor X BKN Denpasar, pembangunan gedung balai nikah dan manasik haji KUA Kintamani.

Pernah Bekerja Sebagai Tukang Cuci Bus

Lahir di Banyuwangi 14 Juli 1983, Nur Fatra lahir dari orangtua yang juga mencoba peruntungannya dengan bertransimgrasi, yakni ke pulau Bali. Pekerjaan awal orangtuanya sebagai tukang cuci bus di sebuah perusahaan bus tujuan Jawa-Bali. Nur Fatra pun mengikuti arah pergerakan orangtuanya hingga ia lulus SMA. Memasuki bangku kuliah, ibu Nur Fatra membuka sebuah warung yang masih berdiri hingga saat ini. Kegigihan orangtua dalam bekerja memotivasi Nur Fatra untuk dengan seksama memilih jurusan apa yang akan ia pilih untuk gelar sarjananya. Berangkat dari pengalaman pamannya yang kuliah teknik sipil di Manado, Nur Fatra kemudian memilih jurusan tersebut, setidaknya ia telah mengetahui ruang lingkup ilmu yang akan ia tekuni.

Peran orangtua dalam perjalanan karier Nur Fatra, tidak bisa dibantahkan, khususnya sang ibu. Sosok yang selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tidak henti memberikan nasihat untuk tulus dan ikhlas dalam menjalani hidup. Tak hanya peran orangtua, didukung dengan pengaruh lingkungan yang mendukung dalam mengembangkan karier, membuat Nur Fatra tidak pernah berhenti untuk mencoba, tetap optimis, dan banyak belajar dari orang-orang yang telah sukses di bidangnya. Khususnya di ilmu teknik sipil, diharapkan agar lulusan teknik sipil berkomitmen untuk tetap bekerja di bidangnya demi mendukung infrastruktur, konstruksi dan teknologi yang memiliki daya saing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!