Berawal dari Kerasnya Ajaran Orang Tua hingga Berani Membangun Bisnis secara Independen

Terlahir dari keluarga HADY WIJAYA alias ‘Aliang Singaraja’ yang sudah lama dikenal sukses dan hebat oleh koleganya dalam berbisnis. Hal ini menyebabkan banyak orang menganggap kesuksesan sang anak ‘Richard PJM Wijaya’ hanyalah sebatas warisan orang tua. Padahal sama sekali tidak, ia menekankan bahwasannya bisnis otomotif dan bisnis lainnya adalah merupakan hasil jerih payahnya sendiri. Hal ini ia buktikan dalamnya kisahnya membangun usaha dan kondisi selisih pendapat dengan Sang Ayah yang tak jarang terjadi.

Richard Praher Jasa Mulia Wijaya atau yang sering di kenal dengan Richard Wijaya adalah pengusaha 34 tahun kelahiran Singaraja Bali. Pria yag satu ini memiliki hobi sepada motor dan MOGE sejak remaja, ia sempat berpikir untuk menekuni jurusan Teknik Mesin pada saat kuliah, bahkan sembari tersenyum ia mengungkapkan, ia pernah bermimpi menjadi teknisi dari pembalap favoritnya, Valentinno Rossi. Namun seiring bertambahnya usia, Richard tersadar bahwasannya menjadi mekanik saja tidak akan menutupi kebutuhan hidup, bahkan saat ia berkeluarga nanti. Ia pun memutuskan untuk menjadi pengusaha, dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di bidang Akuntansi dan Marketing.

Ia mengambil mata kuliah ini dengan tujuan spesifik yakni, agar saat membuka usaha nanti, ia dapat mengetahui lebih lanjut bagaimana cara memasarkan produk yang ia miliki nantinya, dengan tepat sasaran. Untuk selanjutnya, ia belajar bagaimana mengelola keuangan dan memperluas jaringan di bidang IT, karena manusia pasti memiliki keterbatasan dalam menjangkau usaha yang lebih luas.

Richard benar-benar memikirkan secara matang, bagaimana pengelolaan usaha yang ia bangun, bahkan ia membayangkan saat kondisi keuangannya lebih baik dan melebihi nanti, ia akan memilih untuk menyisihkan hasil yang ia dapat dengan melakukan berinvestasi.

Sosok yang menjadi panutan di dalam pengembangan bisnisnya adalah sang ayah, HADY WIJAYA aka Aliang Singaraja. Beliau adalah pebisnis kawakan di wilayah Bali Utara. Pada tahun 2003, Hady Wijaya, sang ayah merintis usaha dealer resmi Yamaha yang berlokasi di Seririt, Singaraja, sekaligus merupakan dealer pertama di wilayah tersebut. Kesuksesan dalam mengelola usaha tersebut, kemudian membuat ayahnya banyak dikenal oleh kolega bisnis di bali dan sekitaran.

Pada akhir tahun 2007, Sang ayah pun meminta Richard untuk bergabung, dengan membantu di bisnis Yamaha tersebut. Saat itu Richard yang baru menyelesaikan studinya di Sydney Australia, menyetujui permintaan tersebut.

Kerasnya Didikan dari Orangtua

Kerasnya didikan orangtua terjadi bukan tanpa alasan, Richard mengakui bahwa sang ayah mendidik dengan cara sangat tegas. Kerja keras adalah konsep yang sudah tertanam sejak kecil. Dahulu sewaktu ayah masih kecil sebelum berangkat sekolah, ayah harus berjualan daging keliling, terlebih setelah kebangkrutan kakeknya akibat perang gestok, harta pun habis, sehingga harus memulai dari nol. Hal ini juga membuat sang ayah menjadi agak sedikit paranoid dengan kehilangan harta benda yang sudah dimiliki. Sehingga semua yang akan dilakukan Richard pun, selalu menjadi kekhawatiran.

Richard adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Ia merupakan orang yang sangat beruntung karena memiliki kesempatan untuk belajar di Australia. Selain latar belakang pendidikan yang ia miliki, ajaran orangtua pun banyak berpengaruh positif kepadanya. Sang ayah selalu berkata ’banyak belajar, banyak mendengar, banyak melihat, dan banyak bertanya, pastilah kamu sukses’ dan hal ini selalu teringat di benak pikiran Richard.

Richard sering mengatakan bahwa sang ayah selalu mengajarinya untuk “jangan pernah menerima ikan, tapi belajarlah untuk memancing”. Hal ini pun mendorong dirinya untuk berupaya mandiri. ‘Bukan berarti tidak ada keterlibatan orangtua, tapi orangtua selalu mengajarkan saya, selama orang tua masih hidup saya harus bisa mandiri.’ ujarnya. Sebagai orangtua, mereka memiliki komitmen untuk mempersiapkan anak-anak mereka, dipastikan untuk memiliki masa depan yang baik nantinya.

Richard pun tak ingin berlama-lama di bawah bayangan sang ayah, ia ingin belajar mandiri untuk membangun usaha sendiri. Di tahun 2008, permintaan Richard akhirnya dipenuhi, orang tuapun memberikan sebuah Dealer Yamaha yang berlokasi di Jimbaran Bali. Pinjaman bank pun di fasilitasi sebagai modal usaha.

Sang Ayah menyerahkan segala keputusan Richard dalam usaha tersebut. Sukses tidak sukses, hal itu menjadi urusan Richard, orangtua tidak akan ikut campur dalam hal ini. Ia pun semakin gencar membuktikan kemampuan dirinya, dengan membuka dealer kedua di Pemogan pada tahun 2009, terlebih di tahun 2008-2014, merupakan masa keemasan Bali saat itu dalam berbisnis.

Seiring dengan perubahan managemen internal Yamaha, Richard pun memutuskan untuk berhenti, dan berdiri dengan kaki sendiri. Menurutnya bila ia masih bergantung dengan merk apapun, nasibnya pun seolah tergantung dengan direksi dari merk tersebut. Keputusan Richard, mendapat oposisi keras dari ayahnya. Namun dengan berat hati, ia mengacu dengan komitmen awal, bahwa segala keputusan ada di tangannya, Central Motor Indonesia (juga dikenal dengan Service & Spare Part) pun didirikan pada tahun 2012. Central Motor Indonesia tumbuh dengan konsep modern. Ia pun berinovasi dengan mengangkat tren merawat motor, tidak hanya dalam memperbaiki saja. Semenjak didirikannya Central Motor kesuksesan demi kesuksesan terus diraih sampai akhir tahun 2016. Namun memasuki tahun 2017, peristiwa pergolakan ekonomi mulai dirasakan di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Bagi Richard hidup itu adalah sebuah pilihan, iapun tidak mau terjebak hanya di dalam satu lini, bisnis otomotif, iapun berkeinginan untuk lebih mengembangkan bisnisnya di lini yang berbeda. Tentu hal ini sudah ada di dalam perhitunganya, berangkat dari pergolakan kondisi ekonomi di Bali, ia pun memutuskan untuk membangun bisnis di lini wisata. Berawal dari mengeloIa satu villa private di Pecatu, dan pelan-pelan mulai belajar, dan bersama rekannya Leo, ia memulai bisnis travel di Bali dengan nama PINK GORILLAZ.

Richard mulai menekuni aktivitas di luar ilmu yang ia miliki, ia belajar menjadi pemandu wisata, driver dan singkat cerita, ia pun mengembangkan travel bisnisnya di Pulau Sumba NTT. Saat ini Richard sedang berkonsentrasi dengan project anyarnya yakni Costa De Sumba Beach Resort. Sebuah resort yang dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 4 ha, yang akan segera beroperasi di 2020 nanti. Tak berhenti sampai di sana, ia juga mengungkapkan rencananya untuk bermain di industri wisata lainnya di pulau Sumba, seperti oleh-oleh, restaurant, city hotel dan apapun yang berkaitan dengan wisata.

Selain pandangan di dalam berbisnis, Richard memiliki value dalam hidup adalah menikmati quality time dengan keluarga, dan anak-anaknya. Ia pun menginginkan anak-anaknya untuk memiliki masa depan yang baik dalam pendidikan maupun dalam karakter. Dalam konsep pendidikan yang diajarkan oleh orangtuanya, ia pun berikan hal yang serupa, agar kelak dapat menjadi generasi yang berani untuk berdiri sendiri dan yakin dengan apa yang menjadi pilihannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!