Berani Bersaing di Era Digital Marketing Bersama Bapak Nyoman Retu

Bisa dikatakan Nyoman Rethu adalah salah satu pengusaha yang sangat merasakan pengembangan digital marketing dalam promosi pariwisata maupun bisnis. Bagaimana tidak sejak tahun 1977 ia sudah membangun rumah makan di Kuta yang pada tahun tersebut belum seramai sekarang, suasana masih tenang dan membuat nyaman siapa pun yang datang.

Bali memiliki alam eksotis yang menjadi destinasi wisata unggulan dunia, tiap tahun tak kurang empat juta wisatawan, datang mengunjungi Bali. Seiring berkembangnya teknologi, tentu membuat Bali semakin dikenal, meninggalkan gaya informasi dari mulut ke mulut, dan mulai membuka diri untuk perkembangan teknologi yang kian pesat.


Nyoman Rethu yang merupakan mantan pengurus sepak bola yang selama 10 tahun bergabung dengan Persatuan Sepakbola Kabupaten Badung (PERSEKABA) merasa beruntung memiliki putra yang ahli dibidang IT.

Ia mengungkapkan di usianya yang sudah tidak lagi muda, ia harus membuka diri dengan perkembangan teknologi.
Sebelum membangun usahanya, Rethu bekerja di Hotel Dewangkara tahun 1970, pria asli Legian ini menceritakan bagaimana daerah tempat tinggalnya masih berupa “tegalan” dan sawah hingga ke desa Petitenget. Bali yang belum sesesak sekarang, juga dikenal sebagai surga dunia bagi peselancar untuk pertama kalinya saat itu.

Tahun 1977, Rethu mulai membangun rumah makan di atas tanah warisan keluarga, tapi sayangnya pada tahun 1995 terpaksa ditutup karena persaingan dengan warga asing yang mulai membangun kala itu. Tidak habis akal, Rethu kemudian membangun rumah dengan dua kamar yang disewakan perbulannya. Jumlah kamar kian bertambah, seiring wisatawan yang ingin lebih lama lagi tinggal di Bali.

Lima tahun kemudian, Rethu mulai merasakan persaingan ditengah pelaku industri properti, pembangunan dengan arsitektur yang moderen mulai mempengaruhi penginapan-penginapan di sekitar tempat tinggalnya. Karena penginapan milik Rethu belum memiliki fasilitas yang lengkap, atas biaya sendiri para wisatawan mulai membangun di atas tanah yang disewakan Rethu, dibangunlah rumah sesuai dengan fasilitas yang diinginkan wisatawan tersebut.

Lambat laun, beberapa rumah yang sudah dibangun, kembali dikelola bersama keluarga. Rethu kemudian memperpanjang izin penginapannya dan mengingat dewasa ini pemesanan tiket sudah tidak perlu saling bertatap muka, ia juga menjalin kerja sama dengan travel agent online. Turis-turis yang menginap diantaranya dari India, Australia, dan didominan oleh warga dari Eropa. Negara – negara yang sebelumnya belum pernah datang ke Bali pun mulai menginap di Juada Garden, begitu ia menamai bungalow miliknya yang sudah memiliki 15 unit kamar. Untuk kedepannya, di usia yang tidak lagi muda, ia berharap putranya dapat meneruskan Juada Garden yang beralamat di Jalan Raya Seminyak No. 501 Seminyak, Kuta, tapi kembali lagi yang terpenting adalah passion, energi dalam diri yang termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan senang hati.

Bali dengan segala keunikannya tersendiri, tidak bisa dijumpai di negara lain. Nyoman Rethu yakin Bali masih menjadi destinasi wisatawan untuk berlibur, baik domestik dan internasional. Asal kita sebagai masyarakat masih tetap ajeg mempertahankan bali sesuai dengan ajaran agama dan kebudayaan Bali.

Pesaing itu ibarat sahabat, sahabat yang akan membuatmu lebih terpacu dan termotivasi untuk lebih bergerak maju. Dihargainya sebuah kesuksesan bukan seberapa uang yang kau dapat, namun bagaimana kamu menghargai sahabat disekitarmu bukan hanya mengejar uang semata.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!