High Scope hadir Di Bali dengan konsep pendidikan Student Centre

Sebuah kalimat tertempel di dinding kelas bertuliskan “Pengalaman Adalah Guru Terbaik”. Dari kalimat tersebut sudah sangat jelas bahwa nilai yang tinggi tidak dapat menjadi jaminan seorang anak memiliki kemampuan dan karakter yang baik di masa depan mereka. Hanya untuk mengejar nilai yang tinggi, malah memancing mereka untuk membohongi diri mereka sendiri. Dan High Scope hadir Di Bali untuk merubah pendidikan tersebut dengan konsep pendidikan Student Centre.

Tentang Sekolah High Scope

Secara umum pendidikan di High Scope tidak ada bedanya dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Hanya cara menyampaikan dan cara belajarnya yang berbeda. Rasa happy saat berangkat ke sekolah menjadi hal yang penting dalam High Sope, akan lebih mudah dalam menerima dan menyerap pelajaran ungkap Bayu selaku owner dari High Scope Bali.

Student Centre adalah konsep dimana siswa lebih aktif mencari informasi dan Guru akan membimbing lebih lanjut. Proses mempelajari sesuatu itu tidak ada yang instan, akademik memang penting, tapi skill jauh lebih penting. Dunia yang sebenarnya akan mereka temui di dunia kerja, mereka pun dituntut harus sudah siap dengan skill dan akademik yang mereka punya.

High Scope memiliki slogan, “We Design not by Chance but by Design” dengan program-program pendukung diantaranya, Problem Solving, Critical Thinking, Respect by Yourself, Everyone and Everything, Lesson With Heart and Mind. High Scope Bali yang berlokasi di Jalan Muding Indah X Kuta Selatan, tidak hanya sekedar memberikan teori, program-program tersebut juga diimbangi dengan action agar lebih mudah dalam pemahaman dan pelajaran berjalan dengan menyenangkan. Karena setiap anak memilki kemampuan yang berbeda, High Scope Indonesia memiliki program Maping, dimana Guru akan membagi anak dalam tiga level, contoh dalam pelajaran matematika, siswa level 1 mungkin baru bisa mengerjakan perkalian yang paling mudah, siswa pada level selanjutnya sudah mampu menghitung perkalian yang lebih sulit. Agar tidak mengganggu proses belajar pada siswa lain, siswa di level yang lebih sulit di berikan challenge dengan tetap pada soal perkalian tapi tingkatan yang lebih tinggi.

High Scope telah hadir di beberapa kota Indonesia yaitu Medan, Jakarta, Palembang dan Bandung. Salah satu founder sekaligus CEO dari High Scope Indonesia ini adalah Antarina S. F Amir, yang merupakan cucu dari aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia, Ki Hajar Dewantara. High Scope Bali sendiri sudah berdiri sejak 11 tahun yang lalu dibawah Yayasan yang berbeda sebelumnya, sejak diambil alih 6 tahun yang lalu tanpa merubah cara dan sistem pembelajaran. Jumlah staf pengajar saat ini sebanyak 90 orang dengan penawaran program pendidikan mulai dari play group, SD, dan SMP. Walau belum dapat menamatkan siswanya hingga SMA, Bayu berharap dalam waktu dekat dapat seperti sekolah-sekolah High Scope lainnya di Indonesia.

Bayu merupakan lulusan ekonomi akutansi-Universitas Udayana, akhirnya ia memilih untuk concern ke dunia pendidikan, karena ia pun merasakan sendiri bagaimana hobi begitu menyenangkan bila menjadi suatu profesi. Masa kuliahnya, Bayu aktif dalam kegiatan olahraga khususnya sepak bola, ia tergabung dalam klub kejuaraan antar mahasiswa kampus. Perannya menjadi Koordinator Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Cup di Kerambitan yang meliputi berbagai olahraga tersebut membuatnya terpilih menjadi sosok figure orang Bali yang terpilih dalam Sepak Bola Gelora Dewata, divisi utama 1998-1999. Di sela aktifitas berolahraga, Bayu juga menekuni hobi sekaligus profesinya yaitu fotografer profesional sejak tahun 2002 hingga sekarang, namun kini waktunya lebih ia utamakan di High Scope Bali, demi kecintaannya akan dunia pendidikan anak-anak.

Didiklah Anakmu pada Masanya, bukan pada Masamu

Kendala itu pasti ada, hal itu datang justru dari orangtua siswa yang bisa dikatakan merupakan “produk lama”, dimana pendidikan yang mereka terima dulu tidak sama dengan apa yang diterima oleh anak mereka di sekolah. Hal itu disiasati dengan Parents Workshop, dan Baby Sitter Workshop, suatu program yang dapat menambah ilmu orangtua siswa sendiri mengenai pendidikan masa kini yang diberikan untuk anak-anak mereka. Bagaimana pun High Scope tidak dapat berjalan dengan baik tanpa kolaborasi antara sekolah dengan orangtua. Kadang ada juga yang bertanya kenapa anak mereka memilki sikap yang berbeda antara di sekolah dan di rumah. Intinya hanya ada pada kesepakatan yang diterapkan di High Scope, di rumah pun orangtua harus memiliki kesepakatan tersendiri dengan anak-anaknya. Jadi anak-anak itu harus memiliki kewajiban yang dilakukan dengan konsekuensi yang telah disepakati

Pendidikan di Indonesia memang harus segera dibenahi. Karena dibalik negara-negara maju pasti memiliki sistem pendidikan yang luar biasa. Untuk bersaing dengan negara-negara tersebut, sumber daya manusia pun harus ditingkatkan. Kurikulum yang telah ditetapkan tidak mudah dilakukan bila siswanya tidak mampu apalagi sarana belajar yang belum memadai. Tapi kita patut menghargai pemerintah, atas usaha untuk melakukan perubahan paradigma bahwa kemampuan setiap anak itu berbeda, bagaimana menggali apa yang menjadi potensi dari sang anak tersebut yang juga tidak lepas perhatian dari orangtua.

Harapan ke depan semoga orangtua selalu mendukung kebutuhan anak “Didiklah Anakmu pada Masanya, bukan pada Masamu” Di masa depan kita tidak tahu akan jadi apa anak kita kelak, di masa yang sudah tidak bisa menggunakan standar pendidikan yang lama, dan dunia itu begitu cepat berubah. Sebagai orangtua kita pun harus terus mengupgrade diri sesuai dengan jamannya dengan membekali anak kita dengan skill dan karakter yang kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!