Bahagia adalah Antibodi Terbaik Manusia

Ada ungkapan yang mengatakan “Bahwa dunia ini merupakan kumpulan daripada bakteri”. Tubuh kita pun tak luput akan adanya bakteri, namun bagaimana kita mampu bertahan dan tidak sakit, alasannya karena tubuh kita terdiri atas antibodi. Untuk membentuk antibodi yang kuat, kita dibekali ilmu tentang makanan sehat dan aktifitas sehat. Namun seiring perkembangan negara maju, perbandingan populasi orang sehat dengan persentase 95% dan 5% orang sakit itulah yang menjadi target daripada Drs. Sufendi Tjuatja (Mr. Chai) membangun usaha Bali Husada Cipta Cantih (BHCC Clinic). Di mana angka 95% inilah yang diyakini menjadi peluang yang bagus untuknya, untuk lebih mengedepankan perawatan sebagai sebuah kunci kesehatan.

 

Mau sepanjang apa usia kita, adalah ada di tangan kita. Sebagai contoh, bila kita melihat perilaku dan kebiasaan orang yang rata-rata berusia 80 tahun, mereka memiliki karakter yang sabar, dan perilaku yang membuat orang lain nyaman. Disertai dengan gaya hidup yang sehat, makan yang teratur dan istirahar yang cukup. Begitulah sebuah karma tidak akan pernah mengkhianati hasilnya, apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.

Berbagai kalangan masyarakat telah menjadi pasien BHCC, hingga pengusaha, pemimpin atau calon pemimpin. Namun dari pandangan Dr. Sufendi, sangat disayangkan mereka menanyakan kondisi tubuh mereka bukan karena kesadaran untuk kebaikan bagi diri sendiri, melainkan demi posisi jabatan mereka yang mungkin mereka anggap lebih mahal. Hal itu mereka terapkan, dengan melakukan screening, setiap tahunnya, apakah mereka sehat atau tidak. Terlepas dari itu, di satu sisi, Dr. Sufendi selalu ingin di setiap praktiknya, memberi pengarahan dan kesadaran kepada masyarakat, akan pentingnya perawatan bukan memberikan “obat kimia”.

Perawatan dengan pengobatan herbal adalah salah satunya pilihan Dr. Sufendi dalam melayani pasien-pasiennya, yakni dengan melakukan pemupukan berupa makanan bergizi dan bernutrisi, yang tentu memiliki manfaat di seluruh organ tubuh manusia. Hindari bahan kimia yang jauh dari manfaat dapat membuat daya tubuh manusia menjadi kuat.

 

Justru tidur yang baik, olahraga, nutrisi, vitamin dan makanan, yang mampu menjawab kebutuhan tersebut. Obat kimia hanya sebagai penyembuh yang cepat, bila seseorang sudah terserang penyakit.

Kakek daripada Dr. Sufendi merupakan ahli pengobatan tradisional terkenal di desa, namun bukan profesional. Beliau melayani masyarakat dan orang-orang sekitar, dengan menggunakan tumbuh-tumbuhan untuk pengobatan. Hal ini pun menurun padanya, namun perbedaannya, ia lebih mendalami ilmu tersebut ke Taiwan. Sehingga ia dapat lebih siap menjawab pertanyaan-pertanyaan secara scientific, dengan melibatkan ilmu medis dan tradisional.

Kombinasi tersebut, merupakan solusi bagi mereka yang menderita penyakit, namun tidak kunjung sembuh. Selain herbal, juga diterapkan dengan cara membersihkan darah yang telah terkontaminasi. Dalam hal ini harus dilakukan secara hati-hati dalam pengambilan darah, karena akan sangat mudah terkontaminasi dengan darah lainnya. Kesimpulannya, banyak sekali mikroba yang terdapat pada darah, dengan melakukan ozonisasi, darah tersebut akan bersih.

Berbicara virus covid-19, Dr. Sufendi memaparkan pendapatnya. Apakah cukup hanya mencuci tangan untuk mematikan virus ini, bagaimana kalau mengenai rambut dan menempel pada pakaian. Selain desinfektan lokal ( mencuci tangan), ada yang lebih efektif dalam menangani hal ini, yang sudah lama dikenal dunia, namun jarang dipraktikan karena tidak kebutuhan yang serius seperti saat ini.

Cara tersebut adalah dengan menggunakan gas ozon. Selain murah, caranya pun mudah, dapat dilakukan di sebuah ruangan yang harus steril, tidak ada manusia dan gas ozon disebarkan lewat kipas angin. Hal ini pula yang dilakukan Dr. Sufendi, untuk organ-organ di bagian dalampada pasien-pasiennya. Karena disinfektan tidak baik untuk tubuh apabila terpapar terus menerus, sedangkan ozon aman dapat digunakan selama 24 jam.

Corona rentan dialami oleh usia lanjut atau orang-orang yang mengidap penyakit berat, seperti gagal ginjal, sakit jantung, asma, alergi. Bahkan balita yang belum memiliki antibodi yang kuat. Apakah ada orang muda yang meninggal karena penyakit ini, jawabannya adalah “ada”. Contohnya seorang dokter yang masih berusia 30 tahun meninggal karena kondisi jiwa yang tidak stabil, merasa tidak bahagia, kelelahan menangani pasien hingga memiliki gejala dan penyakit bertambah berat. Maka daripada itu bila sudah merasa gejala suatu penyakit, diharuskan beristirahat dan yang terpenting adalah menetralkan pikiran kita. Tetap waspada dan jangan lupa bahagia, karena kebahagiaan merupakan antibodi terbaik manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!